Monday, December 21, 2009

Semarak Tahun Baru


Menyambut Tahun Baru Hijriah 1431 H Forum Komunikasi Madrasah Diniyah dusun Cigebot mengadakan acara Gebyar Muharram, tapi tahun ini setelah rapat diantara pengurus FKMD segenap panitia mempunyai kesibukan masing2, trmasuk saya sendiri yang kebetulan diamanahi sebagai sekretaris, hari senin baru kirim surat perizinan, pamplet, donatur dll tp berhubung teman2 yg lain juga sedang sibuk sehingga untk pencarian dana dari donatur baru bisa dilaksanakan hari rabu 1 hari sebelum hari H, wah pokoknya sat sit set.....alhamduliilah acara berlangsung sukses.... terima kasih bagi semua pihak yang telah berpartisifasi menyukseskan acara ini

Saturday, December 5, 2009

Pelatihan Guru PAUD/ TKA/TPA/RA

Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Al Quran /IGTKA Kab. Ciamis menggelar Pelatihan Guru-Guru PAUD,TKA,TPA dengan tema Kurikulum TK Al Quran Karakter dan Teknik mengajarkan Al Quran Metode Al Bana, bertempat di Gedung PGRI Kecamtatan Cipaku, Acara ini dibuka secara langsung oleh Kasie Kesra Kabupaten Ciamis Endang, S.Ag, diikuti 83 peserta se kcmtn Cipaku dan sekitarnya,
dengan pemateri Dr.Ir.H. Zainal Abidin, M.Sc, Lilis Satriah, M.Pd dan Ustadz Abu Fathin dari IGTKA Pusat. Menurut Ketua Penyelenggara Yoyon Sofyan, S.HI kgtan ini diselenggarakan untuk menambah SDM guru PAUD,TKA,TPA berbasis karakter yang telah diterapkan diberbagai negara, acra dimulai pukul 9.00 brakhir dengan tertib pukul 15.00

Thursday, November 26, 2009

Idul Adha 1430 H

Pelaksanaan shalat Ied DKM Al Irsyad Dusun Cigebot tahun ini dilakukan di Masjid Jamie Al Irsyad, hal ini dkarenakan hujan deras yang mengguyur sejak malam harinya, sejak pukul 5 ratusan jamaah memadati Masjid dengan khidmat mengikuti ibadah tahunan ini, bertindak sebagai imam dan khatib adlah H. Indin Muhyidin, slesai shalat Id dilanjutkan dengan pemotongan hewan Qurban brupa 1 ekor Sapi dan 2 ekor kambing, sudah menjadi tradisi pengurusan ini dilakukan secara gotong royong, setelah selesai, daging Qurban dibagikan kepada warga.
Saya atas nama pribadi mengucapkan selamat Hari Raya Idul Adha 1430 H.

Friday, November 13, 2009

CIGEBOT SENTRA TELUR



Cigebot adalah nama sebuah dusun di desa Muktisari, Cipaku, Ciamis.
Nama Cigebot mgkn hanya satu2nya didunia, Cigebot sndri brasl dr kta Cai yg brarti air dan Gebot yg brarti suara hantman keras, mnrt sesepuh masyarakat setempat knon dhlu d suatu tempat yg brnama Legok tiap mlm ska trdgr suara ngagebot tp tdk klhtn wjdnya, sjk saat itu trknlh nma Cgbot.
Cgbt trletak +/- 15 Km arh utara kota Ciamis dgn luas 200 Km, dgn wlyh yg brbukit-bukit trdri atas beberapa blok yaitu Buntar, Zendeung,Ciledug, Cihandiwung, Awilega dan Tugaran, sblh brt brbtsn dgn dsn Kdul, tmur Pnygjrn, sltn Wrg Jarak, Utara Dsn Pari.
Wlyh Cgbt sbgn besar msh asri byk lahan2 tersdia dgn kndsi alam trjga jauh dr kbsingan kota. Jumlh pnduduk adlh 400 KK 1300 Jiwa... trdri dari 9 RT dan 3 RW, pnduduk Cgbt mayorts bragama Islam sbgian bsar bertani, buruh, PNS dan Wirausaha, msyrtk Cgbt brjwa sosial tnggi trbkti msh tngginya kgtn gtong royong dll, ramah khas masyarakat Sunda. Sjk thn 70-an Cigebot trknl sbgai pnghsl telur brmula dr rntsn H.Indin Muhyidin kmdn diikuti olh pnduduk yg lain. Bhkn sjk thn 2002 mglmi prkmbgn sgt pesat dbwh perushaan AN Telor Bpk Anda Suhanda, jg Bp H.Anda dgn plhn rbu ekor ayam omzet milyarn rupiah perhari shngga menjdkn Cigebot sbgai kompleks Sentral Pghsil Telur terbesar d Priangan Timur, tentU saja hal ini menjdi berkah bgi masyrk stmpt menyrap tenaga kerja.
Awlnya Cgbt trmsk wlyh dsa Bnseuri tp sjk trjdnya pmekaran, menjd bgn dr Dsa Muktisari, mulai thn 95-an pmbngnan brjLn bhkn thn 2009 80% jalan d Cigebot telah diaspal berkat adanya PNPM dan PPIP.
Kepala Dusun /Lurah Cgbt
1.Rd Amat 1949-1960
2.Sunanto 1960-1977
3.Sutarman 1977-1998
4.Oman 1999-2004
5.Elon Sahlan 2004-sekarg
Sarana Pendidikan&Keagamaan
a.MIN Muktisari I
b.Masjd Jamie Al Irsyad
c.Masjid Jamie Al Hidayah.
d. MD Al Irsyad
e. MD Al Manan
f. md Al Hikmah
g. md al Huda
(bersambung)

Monday, November 9, 2009

macam tepuk dan lagu santri TPA

1. AMAL APA

( Lagu : Sedang apa )

Amal apa. Amal apa, yang disukai Allah

Bersholatlah, bersholatlah, tepat pada waktunya

Apa lagi, apa lagi, yang disukai Allah

Berbaktilah, berbaktilah pada ibu dan ayah

Apa lagi, apa lagi yang disukai Allah

Sholawatlah, sholawatlah pada Nabi Muhammad

Apa lagi, apa lagi yang disukai Allah

Berjuanglah, berjuanglah, berjuang di jalan Allah
2. MARI-MARILAH SHOLAT

( Lagu : Naik-naik ke puncak )

Sayang-sayang adikku sayang

Mari-marilah sholat

Satu hari lima kali sujud pada Illahi

Satu hari lima kali sujud pada Illahi

Mari-mari, marilah sholat

Lima kali sehari

Subuh Dhuhur Asar Maghrib

Isya’ kembali ke Shubuh lagi

Subuh Dhuhur Asar Maghrib

Isya’ kembali ke Shubuh lagi

3. IKRAR KITA

(Lagu : Bintang Kecil )

Tuhan kita, Allahu Ar Rohim

Nabi kita, Muhammad Al Amin

Kitab kita, Al Qur’anul Karim

Teman kita, sesama muslimin
4. SANTRI KECIL

(Lagu : Bintang Kecil )

Santri kecil di masjid yang indah

Bawa Qur’an dan bawa sajadah

Rajin ngaji dan rajin ngibadah

Pakai peci dan busana muslimah

Santri kecil TPA MTA

Bawa Qiro’aty dan AL Qur’an

Rajin sholat dan rajin mengaji

Sayang kawan tak suka bermusuhan
5. AGAMAKU ISLAM

( Lagu : Topi saya bundar )

Agamaku Islam, Islam agamaku

Kalau bukan Islam, bukan agamaku

Tuhan saya Allah, Allah Tuhan saya

Kalau bukan Allah, bukan Tuhan saya

Tuhan saya satu, satu Tuhan saya

Kalau tidak satu, bukan Tuhan saya

6. RUKUN ISLAM

( Lagu : Balonku ada lima )

Rukun Islam yang lima

Syahadat, sholat, puasa

Zakat untuk si papa

haji bagi yang kuasa

Siapa yang tak sholat ( nar ….. )

Siapa yang belum zakat

Kan rugi di akhirat

Allah pasti melaknat

7. ALLAH MAHA ESA

( Lagu : Balonku ada lima )

Allah yang Maha Esa

Pemurah dan Pencipta

Tempat hamaba meminta

Memuji dan berdoa

Beriman dan berakal

Untuk bekal hidupku

Ikhtiyar dan tawakal

Itulah usahaku

8. TUHAN HANYA SATU

( Lagu : Balonku ada lima )

Tuhanku hanya satu

Tiada bersekutu

Dia tidak berputra

Tidak pula berbapa

Siapa bilang tiga door !

Itu musyrik namanya

Orang seperti dia

Nerakalah tempatnya

9. SHOLAT DAN ZAKAT

( Lagu : Panjang umurnya )

Sholat bersama, sholat bersama

Sholat bersama lebih mulia

Lebih mulia, lebih mulia

Membayar zakat, membayar zakat

Membayar zakat juga utama

Juga utama, juga utama

Rajin mengaji, rajin mengaji

Rajin mengaji juga mulia

Juga utama, juga utama
10. MARI MENGAJI

( Lagu : Naik delman )

Tiap sore hari ku rajin dating mengaji

Dengan kawan-kawan, tuk jadi anak terpuji

Di samping mengaji, diajar pula menyanyi

Agar hati ini selalu dekat Illahi

Yo kawan-kawan, marilah kita mengaji

Yo kawan-kawan, marolah kita mengaji

11. ALLAH MAHA ESA

( Lagu : Burung kakak tua )

Allah Maha Esa, Allah Maha Kaya

Allah Maha Sayang, Allah Maha Kuasa

Allah, Allah, Allahu akbar

Allah, Allah, Allahu akbar

Allah, Allah, Allahu akbar

Allah Maha Besar

Allah Maha Besar, Allah Maha Kekal

Allah Maha Esa, Allah yang sempurna

Allah, Allah, Allahu akbar

Allah, Allah, Allahu akbar

Allah, Allah, Allahu akbar

Allah Maha Besar

12. SANTRI TPA

( Lagu : Warung pojok )

Hijau muda seragamnya ( menawan )

Pakai jilbab di kepala ( cantiknya )

Qiro’aty bawaannya

Cinta Al Qur’an orangnya

Aduh gantengnya, aduh cantiknya

Aduh anggunnya, baik budi pekertinya

13. MARI SHOLAT

( Lagu : Gelang sipatu gelang )

Sholat, marilah sholat

Mari sholat bersama-sama

Barang siapa yang tidak sholat

Yang tidak sholat mendapat siksa

14. CARA WUDLU

( Lagu : Naik-naik ke puncak )

Mari kawan kita belajar

Cara wudlu yang benar

Yang pertama baca basmalah

Dua basuh telapak tangan

Yang ketiga berkumur-kumur

Sambil membasuh lubang hidung

Yang keempat membasuh muka

Lalu membasuh tangan

Dahulukan tangan yang kanan

Baru tangan yang kiri

Usap kepala langsung telinga

Cukup sekali saja

Yang kelima membasuh kaki

Hingga ke mata kaki

Dahulukan kaki yang kanan

Baru kaki yang kiri

Jangan lupakan baca syahadat

Agar wudlu sempurna

15. JALAN MASUK SYURGA

( Lagu : Satu-satu )

Satu-satu aku cinta Allah

Dua-dua cinta Rasulullah

Tiga-tiga cinta orang tua

Satu, dua, tiga jalan masuk syurga
16. RUKUN IMAN

( Lagu : Satu-satu )

Rukun iman enam perkara

Yang pertama iman kepada Allah

Yang kedua Malaikat-Nya

Yang ketiga Rasul-rasul-Nya

Yang keempat Kitab-kitab-Nya

Yang kelima hari Qiamat

Yang keenam Qodho dan Qodhar

Semua datang dari Allah 2X

17. 25 RASUL

( Lagu : Sorak-sorak bergembira )

Adam, Idris, Nuh, Hud, Sholeh

Ibrahim, Luth, Ismail

Ishaq, Ya’qub, Yusuf, Ayyub

Syu’aib, Harun, Musa

Dzulkifli, Daud, Sulaiman

Ilyas, Ilyasa, Yunus

Zakaria, Yahya, Isa

Muhammad Nabi kita

18. KITAB AL QURAN

(Lagu : Layang-layang )

Ku ambil kita Al Qur’an

Ku baca dan kuartikan

Ku simak dan ku renungkan dengan tenang

Ku jadikan pedoman

Berlatih berlatih

Berlatih membaca Al Qur’an

Berlatih dan ku ajak kawan-kawan

Hati gembira dan senang
19. MUHAMMAD RASULULLAH

( Lagu : Apuse )

Muhammad Rasulullah

Penutup Nabi dan Rasul

Sebagai rahmad bagi alam raya

Muhammad Rasulullah

Pemimpin di akhir zaman

Sholawat serta salam kami untukmu

Ya Muhammad, Rasulullah

Ya Muhammad, hamba Allah

Muhammad Rasulullah

Teladan bagi ummatnya

Al Qur’an firman Allah pedomannya

Muhammad Rasulullah

Jasamu amatlah besar

Mari kita teruskan ajarannya
20. RUKUN ISLAM

( Lagu : Siapa suka hati )

Katakan rukun Islam yang pertama ( Syahadat )

Katakan rukun Islam yang kedua ( Sholat )

Ketiganya puasa, keempat membayar zakat

Kelima pergi haji naik pesawat wus… wus…

21. DISINI ISLAM DISANA ISLAM

( Lagu : Disini senang di sana senang )

Disini Islam disana Islam

Dimanapun aku tetap Islam

Sekarang Islam, besokpun Islam

Sampai matipun ku tetap Islam

Dimanapun tetap Islam, Islam jaya dimanapun

Tetap Islam, Islam jaya dimanapun
22. I Q R O

( Lagu : Disini senang di sana senang )

Disini Iqro’ disana Iqro’

Dimana-mana bacalah Iqro’

Di sekolah baca, di rumah baca

Di mana-mana bacalah Iqro’
خَ حَ جَ ثَ تَ بَ اَ

صَ شَ سَ زَ رَ ذَ دَ

قَ فَ غَ عَ ظَ طَ ضَ

يَ ءَ هَ وَ نَ مَ لَ كَ

23. SANTRI KECIL

( Lagu : Pelangi koes plus )

Kulihat santri kecil di sore hari

Ia rajin mengaji sambil bernyanyi

Santri kecil-santri kecil

Rajin-rajinlah mengaji

Mengabdi pada Illahi

Untuk bekal hari nanti

24. SUARA ADZAN

(Lagu : Kring-kring-kring ada sepeda)

Terdengar suara adzan,

Tanda panggilan sholat

Tundalah kegiatan,

Marilah beribadat

Dengar seruan qomat,

Sholatkan dimulai

Khusyu’ waktu ibadah

Ikhlas di dalam hati
25. AL QURAN

(Lagu : Soleram)

Al Qur’an, Al Qur’an

Al Qur’an firman Tuhan

Kitab suci menjadi pedoman kawan

Pelajari serta diamalkan

Kitab suci menjadi pedoman kawan

Pelajari serta diamalkan
26. MARI KITA SHOLAT

( Lagu : Matahari terbenam )

Ayo kawan semua, mari kita sholat

Tinggalkan permainan, kerjakan ibadah

Ayo … ayo…. ayo mari kita sholat

Ayo … ayo … ayo kerjakan ibadah
27. PERGI MENGAJI

( Lagu : Matahari terbenam )

Menjelang sore hari, ku pergi mengaji

Kubawa Qiro’aty, dengan senang hati

Ayo…ayo… ayo kita mengaji

Ayo…ayo… ayo kita mengaji

28. LIHAT AKU

( Lagu : Lihat kebunku )

Lihatlah aku anak yang pintar

Riang selalu dan rajin belajar

Setiap hari ku ngaji Qur’an

Bersama teman

Di TPA MTA
29. WAKTU DAN REKAAT SHOLAT

(Lagu : Bangun tidur)

Sholat Shubuh di pagi hari

Sholat Dhuhur di siang hari

Sholat Asar di sore hari

Maghrib, Isya’ di malam hari

Sholat Subuh dua rekaat

Dhuhur ‘Asar empat rekaat

Sholat Maghrib tiga rekaat

Sholat Isya’ empat rekaat

30. MENGAJI AL QUR AN

(Lagu : Heli anjing kecil)

Mari mengaji Al Qur’an

Dengan ustadz ustadah

Ikuti dan perhatikan

Jangan banyak bercanda

Ingat, Hei teman

Hormati Al Qur’an

Ayo, hei teman

Kita mengamalkan

31. AKU ANAK ISLAM

(Lagu : Aku anak sehat)

Aku anak Islam rajin sembahyang

Karena bimbingan ibu tersayang

Semenjak aku kecil, slalu ikut mengaji

Sehingga mengerti ajaran Ilahi

Senang hati ibu melihat aku

Tak lupa mengaji setiap waktu

Bila aku belajar ibu slalu ihtiar

Membimbingku belajar jadi anak yang pintar

32. MASUK PENGAJIAN

(Lagu : Lagi bilaman)

Ayo, kawan-kawan kita bergandeng tangan

Besama-sama masuk ke pengajian

Ayo, ayo , ayo

Ayo, ayo, ayo

Bawa Qiro’aty dan Al Qur’an

Jangan sampai ketinggalan

Duduk tertib mendengarkan

33. CINTA ISLAM

( Lagu : Desaku)

Islamku yang kucinta

Kujaga selalu

Membuat ku bahagia

Dan ingin menyatu

Tak akan kulupakan

Tak akan bercerai

Selalu kudambakan

Islamku yang damai

34. NGAJI SAMA-SAMA

( Lagu : Cublak-cublak suweng )

Ngaji sama-sama, yang ramai tidak bisa

Yang ngantuk tidak dengar, yang nganggu tak disuka

Bismillah ayo ngaji, bismillah ayo ngaji

Ayo-ayo ngaji, ngajine sing tenanan

Ora pareng gojegan

Lungguhe anteng-antengan

Sing rame kancane syetan

Bismillah ayo ngaji, bismillah ayo ngaji
35. SIAPA TAHU

( Lagu :Nama-nama rasa )

Siapa tahu nama Tuhan kita

Allah Allah Allah Azawajala

Siapa tahu nama Nabi kita

Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam

Cobalah katakan apa kitab kita

Alqur’an namanya

Sesama muslim itu teman kita

Kalau musuh kita adalah setan
36. MENUNTUT ILMU

( Lagu : Bebek-bebekku )

Teman-temanku, mari-kemari

Ikutlah aku menuntut ilmu

Disana kita ngaji bersama

Tuk bekal hidup nanti diakhiratnya

Yo ikut, yo ikut ngaji bersama

Belajar Al Qur’an dengan gembira

37. ARTI TPA DAN MTA

(Lagu : Apa guna keluh kesah)

Apa artinya TPA

Apa artinya TPA

Taman Pendidikan Al-Qur’an

Itu artinya TPA

Apa artinya MTA

Apa artinya MTA

Itu Majlis Tafsir Al-Qur’an

Itu artinya MTA

38. ALLAH TUJUAN KITA

(Lagu : Semut-semut kecil)

+ Wahai santri-santri

Ustadz mau tanya

Siapa Tuhanmu, siapa Nabimu, dan apa kitabmu ?

= Ustadz baik hati

Kami kan menjawab

Allah Tuhanku, Muhammad Nabiku, Al Qur’an kitabku

Alhamdulillah kalian tahu

Alhamdulillah kalo begitu

+ Wahai santri-santri

Ustadz tanya lagi

Siapa temanmu, siapa musuhmu, harus bagaimana ?

= Ustadz baik hati

Kami kan menjawab

Muslim temanku, Syetan musuhku wajib dijauhi

Allah ta’ala tujuan kita

Nabi Muhammad teladan kita

Al Qur’an karim, pedoman kita

Iman dan taqwa bekal utama

La la la la la la la la la 2x

La la la la la la la la la 2x
39. MASYITHOH

Wahai Masyithoh putrid Islam yang mulia

Imannya teguh pada Allah Taala

Fir’aun tahu serta marah kepadanya

Lalu disiksa dengan kejam tak terkira

Masyithoh sholeh diberi hukuman yang mengerikan

Tak gentar dengan rela hati

Allahu Akbar 2x
40. SATRI KECIL

Santri-santri kecil dari TPA MTA

Bawa Qiroaty juga bawa Al Qur’an

Bermain bernyanyi mengaji bersama

Berseragam indah bagai kupu-kupu syurga

41. SHOLAT WAJIB

Tak lupa tugasku setiap hari

Sembahyang wajibku yang lima kali

Shubuh Dhuhur ‘Ashar Maghrib dan Isya’

Tak mungkin aku lupakan slama-lamanya

42. SYAHADAT

Asyhadu alla illaha illa Allah

Waasyhadu anna Muhammadar rasulullah

Saya bersaksi tiada Tuhan selain Allah

Dan saya bersaksi Muhammad utusan Allah

43. CIPTAAN ALLAH

Bila kupandang langit dan bumi

Alam semesta ini

Semua ciptaan yang Esa

Ya ….. Allah

Firman-Mu bagai sinar yang terang

Menuju kebenaran

Jauhkan aku dari siksaan

Ya ….. Allah

Pengasih dan penyayang

Pada semua insane

Memuji selalu nama-Mu

Allah, Allah, Allah

44. ANGGOTA BADAN

Kita hafalkan bersama

Nama-nama anggota badan

Dalam bahasa Arab

Kepala rokshun, rambut sya’run

Kening jabkhotun, mata ‘ainun

Hidung anfun, telinga udzunun

Dada shodrun, leher unuqun

Famun mulut, shofkhotun bibir

Sinun gigi, lisanun lidah

Bagnun perut, rijlun kaki

Yadun tangan, ashobiun jari-jari

45. BULAN HIJRIAH

Mari kawan semua, kita menghafalkan

Dua belas nama bulan dalam tahun Hijriayah

Satu Muharrom, kedua Shafar

Taga Robiul awal, empat Rabiul tsani

Lima Jumadil ula, enam Jumadil tsaniyah

Ketujuh bulan rojab, delapan bulan Sya’ban

Sembilan Romadhon, sepuluh bulan Syawal

Sebelas Dzulqoidah, Duabelas Dzulhijah

46. ALHAMDULILLAH PUNYA MATA

Alhamdulillah, alhamdulillah

Aku punya mata

Mataku indah mataku bersih

Oh Alhamdulillah

Dapat kulihat dapat kupandang

Pemandangan indah

Aku bersyukur Alhamdulillah

Terimakasih Allah
47. 10 MALAIKAT ALLAH

10 Malaikat Allah

Jibril pembawa wahyu

Mikail pembagi rizqi

Isrofil peniup sangka kala

Izroil pencabut nyawa

Munkar dan Nakir penanya di kubur

Rqib dan Atid pencatat amal

Malik penjaga di Neraka

Ridwan penunggu Syurga

10 Malaikat Allah

48. ALLAH MAHA MELIHAT

Allah Maha Melihat hat … hat…

Semua perilakumu mu… mu…

Allah Maha Mendengar ngar…ngar…

Semua perkataanmu mu…mu…

Ayo kita waspada da…da…

Jangat berbuat dosa sa…sa…

Ingat ingat selalu lu…lu…

Allah mengawasimu mu…mu…

49. RUKUN ISLAM DAN IMAN

Rukun Islam ada lima

Pertama ucap dua kalimat syahadat

Keduanya sholat ketiga berpuasa

Keempat zakat kelima naik haji

Rukun Iman ada enam

Percaya Allah, percaya pada malaikat

Percaya Kitab Allah serta Nabi dan Rasul

Percaya kiamat qodho dan qodar

Rukun Islam harus dikerjakan

Rukun Iman diyakini

50. I PI YA

Ipiyaa ya ya ipiye

Aku dadi cah Islam wae

Yen awan tak pikerke

Yen wengi tak impekke

Imanku san soyo kuwate

Ayo konco ayo konco

Iki wis arep sasi poso

Mulo padha nindhakno

Iku sifat satriyo

Bedho karo sifate buto

51. BELAJAR NGAJI

Saya ingin belajar Bu

Belajar di TPA

Perlu cari ilmu Bu

Ilmu yang berguna

Blajar mengkaji Qur’an Bu

Ilmu yang sempurna

Besok untuk bekal Bu

Kecil sampai tua

Sungguh Qur’an itu Bu

Petunjuk manusia

Agar bahagia Bu

Dunia akhiratnya

52. SHOLAT

Sholat iku penggawe mulyo

Laku gampang ora rekoso

Lan ngilangake laku kang nistha

Mumpung isih pada ana ndonya

Tindake Nabi wajib den turut

Nyembah Allah kelawan sujud

Lan nindakake laku kang becik

Ngedohi laku alo lan musyrik

53. MESEMMA

Mesemmaaa……..

Yen ora bisa kandha

Mesemmaaa……..

Yen ora pati cetha

Mesemmaaa……..

Nadyan atimu rada gelo

Mesemmaaa……..

Ngiras kanggo tamba

Mesemmaaa……..

54. BOCAH CILIK

Bocah cilik-cilik

Lungguh tharik-tharik

Sandangane resik

Tumindake becik

Allah Pangeranku

Muhamamd Nabiku

Islam agamaku

Al Qur’an kitabku

55. DOA IBU

Sejak kecil kudiasuh

Oleh ayah dan ibu

Tak pernah dia mengeluh

Malam kudijaga

Pesan dari ibu guru

Kuingat selalu

Do’akanlah orang tua

Biar masuk syurga

Oh Tuhan, oh Tuhanku

Dengarlah do’aku

Kasihinilah ayah dan ibu

Dan ampunilah dosanya

56. NABI YUNA

Nabiyuna Nabi Muhamamd

Ismu abi sayyid Abdullah

Ummuhu sayyidah Aminah

Wahyuwayyulladu bi Makkah

Yaumul Isnain qobla subhi

Syahrul April yaumul ‘Asyiri

Amun fiil maulidun Nabi

Khomsun mi’ah wahid wa sab’iin

Nabiku Nabi Muhammad

Ingkang romo sayyid Abdullah

Ingkang ibu Siti Aminah

Miyos dalem wonten ing Mekkah

Dino Senen ing wayah subuh

Sasi April tanggal rong puluh

Tahun Fill miyose Nabi

Limo pitu siji tahun Masehi
57. ALLAHU AKBAR

Allahu akbar, Allahu Akbar

Allahu akbar, Allahu Akbar

Esuk-esuk uthuk-uthuk

Gununge katon ngregunuk

Genduk ojo ngantuk

Kae adzane wis nyeluk

Allahu akbar, Allahu Akbar

Allahu akbar, Allahu Akbar

Sisih wetan bang nerawang

Ojo padha ongkang-ongkang

Kakang menyang mblumbang

Sesuci nuli sembahyang

Allahu akbar, Allahu Akbar

Allahu akbar, Allahu Akbar

58. ALLAH MAHA WELAS

Duh Gusti nyuwun kawelasan

Dateng sadaya kesaenan

Duh Dzat kang welas

Lan kang ngapura

Mugi ngapunten

Ing dosa kita

59. ASSALAAMU ‘ALAIKUM

Assalaamu ‘alaikum

Wa’alaikum salam

Semoga sejahtera

Atas karunia-Nya

60. BISMILLAH HIRRAHMAANIRROHIIM

Bismillahirrohmaanirrohiim

Dengan jalan rahmat dan kasih-Nya

Mereka yang beriman mereka yang bertakwa

Senantyasa dalam nikmat Allah

MACAM-MACAM TEPUK

1. TEPUK ISLAM

Tepuk Islam

( X X X ) agamamu ( X X X ) Islam

( X X X ) Tuhanmu ( X X X ) Allah

( X X X ) Nabimu ( X X X ) Muhammad

( X X X ) Kitabmu ( X X X ) Al Qur’an

( X X X ) temanmu ( X X X ) muslim

( X X X ) musuhmu ( X X X ) syetan

2. TEPUK TENANG

Tepuk tenang

( X X X ) te ( X X X ) nang

( X X X ) tenang sedakep Mendel cep.

3. TEPUK KHOLIFAH

Tepuk Kholifah

( X X X ) pertama ( X X X ) Abu Bakar

( X X X ) kedua ( X X X ) Umar

( X X X ) ketiga ( X X X ) Usman

( X X X ) keempat ( X X X ) Ali

4. TEPUK RUKUN ISLAM

Tepuk rukun Islam

( X X X ) pertama ( X X X ) syahadat

( X X X ) kedua ( X X X ) shalat

( X X X ) ketiga ( X X X ) puasa

( X X X ) keempat ( X X X ) zakat

( X X X ) kelima ( X X X ) haji

5. TEPUK RUKUN IMAN

Tepuk rukun Iman

( X X X ) pertama ( X X X ) pada Allah

( X X X ) kedua ( X X X ) Malaikat

( X X X ) ketiga ( X X X ) Kitab-Nya

( X X X ) keempat ( X X X ) Nabi-Nya

( X X X ) kelima ( X X X ) Hari Kiamat

( X X X ) keenam ( X X X ) Taqdir

6. TEPUK AL QUR’AN

( X X X ) pertama ( X X X ) Al Fatihah

( X X X ) kedua ( X X X ) Al Baqorah

( X X X ) ketiga ( X X X ) Ali Imran

( X X X ) keempat ( X X X ) An Nisa’

( X X X ) kelima ( X X X ) Al Maidah

( X X X ) keenam ( X X X ) Al An’am

( X X X ) ketujuh ( X X X ) Al A’raf

( X X X ) kedelapan ( X X X ) Al Anfal

( X X X ) kesembilan ( X X X ) At Taubah

( X X X ) kesepuluh ( X X X ) Yunus

7. TEPUK ISTIQOMAH

( X X X ) Aku ( X X X ) Anak Islam

( X X X ) Slalu bangga ( X X X ) dengan Islam

( X X X ) Jadi mentri ( X X X ) tetap Islam

( X X X ) Jadi mantri ( X X X ) tetap Islam

( X X X ) Pak polisi ( X X X ) tetap Islam

( X X X ) Sampai mati ( X X X ) tetap Islam

( X X X ) Islam Islam yes.

8. TEPUK ISLAM JAYA

( X X X ) I ( X X X ) S

( X X X ) L ( X X X ) A

( X X X ) M ( X X X ) Islam …. Jaya.

9. TEPUK SHOLAT

( X X X ) Lima waktu ( X X X ) kulakukan

( X X X ) Hati riang ( X X X ) jiwa lapang

( X X X ) Subuh ( X X X ) Dhuhur

( X X X ) Ashar ( X X X ) Maghrib

( X X X ) Isya’ ( X X X ) tak pernah

( X X X ) kutinggalkan

10. TEPUK PANJI ISLAM

Panji Islam kan datang ( X X X hey )

Umat Islam kan menang ( X X X hey )

Tak henti kami berjuang ( X X X hey )

Agar panji Islam menjulang ( X X X hey )

NAdoman

PUPUJIAN KANGJENG NABI

Gusti urang sadayana
Kangjeng Nabi anu mulya
Muhammad jenenganana
Arab Qurés nya bangsana

Ibuna Siti Aminah
ramana Sayid Abdullah
dibabarkeuna di Mekah
wengi Senén dinten Gajah

Rabi’ul Awal sasihna
tanggal kaduabelasna
April bulan Maséhina
tanggal kaduapuluhna

Ari bilangan tauna
lima ratus cariosna
tujuh puluh panambihna
sareng sahiji punjulna

Siti Aminah misaur
waktos babarna kacatur
ningal cahya mani ngempur
di bumina hurung mancur

Babar taya kokotoran
orok lir kénging nyepitan
soca lir kénging nyipatan
sarta harum seuseungitan

Keur opat taun yuswana
diberesihan manahna
Nabi dibeulah dadana
Malaikat nu meulahna

Jibril kadua réncangna
Mikail jenenganana
ngeusikeun kana manahna
élmu hikmat sapinuhna

Tuluy dada Kangjeng Nabi
gancang dirapetkeun deui
sarta teu ngaraos nyeri
dilap ku hotaman nabi

Nuju tanggal tujuh likur
bulan Rajab nu kacatur
nurut kaol anu mashur
Kangjeng Nabi téh disaur

Dipapag ku Malaikat
nyandak burok nu kasebat
leumpangna téh cara kilat
tungganganeun Nabi angkat

Ti Mekah ka Bétal Makdis
teu nganggo lami antawis
ku jalma henteu katawis
kersana Gusti nu wacis

Ti Bétal Makdis terasna
naék na tangga kancana
mi’raj téa kasebatna
ka langit Nabi sumpingna

Tujuh langit sadayana
jeung Arasy nu pangluhurna
disumpingan sadayana
katut surga narakana

Kangjeng Nabi ditimbalan
ku Gusti nu sifat Rahman
anjeuna kudu netepan
salat muji ka Pangéran

Kabéh jalma anu iman
sami pada kawajiban
salat nu lima giliran
henteu meunang dikurangan

Salat éta minangkana
dina agama tihangna
jalma nu luput salatna
nyata rubuh agamana

ÉLING-ÉLING DULUR KABÉH

Éling-éling dulur kabéh
ibadah ulah campoléh
beurang peting ulah weléh
bisina kaburu paéh

Sabab urang bakal mati
nyawa dipundut ku Gusti
najan raja nyakrawati
teu bisa nyingkiran pati

Karasana keur sakarat
nyerina kaliwat-liwat
kana ibadah diliwat
tara ngalakukeun solat

Kaduhung liwat kalangkung
tara nyembah ka Yang Agung
sakarat nyeri kalangkung
jasadna teu beunang embung




Emut keur leutik, memeh maghrib sok aya pupujian, matak nineung, ari eusi pupujian na teh kieu:

ANAK ADAM

Anak Adam anjeun di dunya ngumbara
umur anjeun di dunya téh moal lila

Anak Adam umur anjeun téh ngurangan
saban poé saban peuting dicontangan

Anak Adam paéh anjeun téh nyorangan
cul anak cul salaki jeung babandaan

Anak Adam paéh euweuh nu dibawa
ngan asiwung jeung boéh anu dibawa

Anak Adam pasaran téh lolongséran
saban poé saban peuting gegeroan

Anak Adam anjeun kaluar ti imah
digarotong dina pasaran tugenah

Aduh bapa aduh ibu abdi keueung
rup ku padung rup ku lemah abdi sieun

Anak Adam di kubur teh poék pisan
nu nyaangan di kubur téh maca Qur’an

Metode Pembelajaran Efektif

Belajar atau pembelajaran adalah merupakan sebuah kegiatan yang wajib kita lakukan dan kita berikan kepada anak-anak kita. Karena ia merupakan kunci sukses unutk menggapai masa depan yang cerah, mempersiapkan generasi bangsa dengan wawasan ilmu pengetahuan yang tinggi. Yang pada akhirnya akan berguna bagi bangsa, negara, dan agama. Melihat peran yang begitu vital, maka menerapkan metode yang efektif dan efisien adalah sebuah keharusan. Dengan harapan proses belajar mengajar akan berjalan menyenakngkan dan tidak membosankan. Di bawah ini adalah beberapa metode pembelajaran efektif, yang mungkin bisa kita persiapkan.


Metode Debat
Metode debat merupakan salah satu metode pembelajaran yang sangat penting untuk meningkatkan kemampuan akademik siswa. Materi ajar dipilih dan disusun menjadi paket pro dan kontra. Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok dan setiap kelompok terdiri dari empat orang. Di dalam kelompoknya, siswa (dua orang mengambil posisi pro dan dua orang lainnya dalam posisi kontra) melakukan perdebatan tentang topik yang ditugaskan. Laporan masing-masing kelompok yang menyangkut kedua posisi pro dan kontra diberikan kepada guru.
Selanjutnya guru dapat mengevaluasi setiap siswa tentang penguasaan materi yang meliputi kedua posisi tersebut dan mengevaluasi seberapa efektif siswa terlibat dalam prosedur debat.
Pada dasarnya, agar semua model berhasil seperti yang diharapkan pembelajaran kooperatif, setiap model harus melibatkan materi ajar yang memungkinkan siswa saling membantu dan mendukung ketika mereka belajar materi dan bekerja saling tergantung (interdependen) untuk menyelesaikan tugas. Ketrampilan sosial yang dibutuhkan dalam usaha berkolaborasi harus dipandang penting dalam keberhasilan menyelesaikan tugas kelompok. Ketrampilan ini dapat diajarkan kepada siswa dan peran siswa dapat ditentukan untuk memfasilitasi proses kelompok. Peran tersebut mungkin bermacam-macam menurut tugas, misalnya, peran pencatat (recorder), pembuat kesimpulan (summarizer), pengatur materi (material manager), atau fasilitator dan peran guru bisa sebagai pemonitor proses belajar.

Metode Role Playing
Metode Role Playing adalah suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa. Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. Permainan ini pada umumnya dilakukan lebih dari satu orang, hal itu bergantung kepada apa yang diperankan. Kelebihan metode Role Playing:
Melibatkan seluruh siswa dapat berpartisipasi mempunyai kesempatan untuk memajukan kemampuannya dalam bekerjasama.
1. Siswa bebas mengambil keputusan dan berekspresi secara utuh.
2. Permainan merupakan penemuan yang mudah dan dapat digunakan dalam situasi dan waktu yang berbeda.
3. Guru dapat mengevaluasi pemahaman tiap siswa melalui pengamatan pada waktu melakukan permainan.
4. Permainan merupakan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak.

Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving)
Metode pemecahan masalah (problem solving) adalah penggunaan metode dalam kegiatan pembelajaran dengan jalan melatih siswa menghadapi berbagai masalah baik itu masalah pribadi atau perorangan maupun masalah kelompok untuk dipecahkan sendiri atau secara bersama-sama.
Orientasi pembelajarannya adalah investigasi dan penemuan yang pada dasarnya adalah pemecahan masalah.
Adapun keunggulan metode problem solving sebagai berikut:
1. Melatih siswa untuk mendesain suatu penemuan.
2. Berpikir dan bertindak kreatif.
3. Memecahkan masalah yang dihadapi secara realistis
4. Mengidentifikasi dan melakukan penyelidikan.
5. Menafsirkan dan mengevaluasi hasil pengamatan.
6. Merangsang perkembangan kemajuan berfikir siswa untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan tepat.
7. Dapat membuat pendidikan sekolah lebih relevan dengan kehidupan, khususnya dunia kerja.
Kelemahan metode problem solving sebagai berikut:
1. Beberapa pokok bahasan sangat sulit untuk menerapkan metode ini. Misal terbatasnya alat-alat laboratorium menyulitkan siswa untuk melihat dan mengamati serta akhirnya dapat menyimpulkan kejadian atau konsep tersebut.
2. Memerlukan alokasi waktu yang lebih panjang dibandingkan dengan metode pembelajaran yang lain.

Pembelajaran Berdasarkan Masalah
Problem Based Instruction (PBI) memusatkan pada masalah kehidupannya yang bermakna bagi siswa, peran guru menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog.
Langkah-langkah:
1. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran. Menjelaskan logistik yang dibutuhkan. Memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih.
2. Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan topik, tugas, jadwal, dll.)
3. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah, pengumpulan data, hipotesis, pemecahan masalah.
4. Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya.
5. Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.
Kelebihan:
1. Siswa dilibatkan pada kegiatan belajar sehingga pengetahuannya benar-benar diserapnya dengan baik.
2. Dilatih untuk dapat bekerjasama dengan siswa lain.
3. Dapat memperoleh dari berbagai sumber.
Kekurangan:
1. Untuk siswa yang malas tujuan dari metode tersebut tidak dapat tercapai.
2. Membutuhkan banyak waktu dan dana.
3. Tidak semua mata pelajaran dapat diterapkan dengan metode ini

Cooperative Script
Skrip kooperatif adalah metode belajar dimana siswa bekerja berpasangan dan secara lisan mengikhtisarkan bagian-bagian dari materi yang dipelajari.
Langkah-langkah:
1. Guru membagi siswa untuk berpasangan.
2. Guru membagikan wacana / materi tiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasan.
3. Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar.
4. Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya. Sementara pendengar menyimak / mengoreksi / menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap dan membantu mengingat / menghapal ide-ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya.
5. Bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya, serta lakukan seperti di atas.
6. Kesimpulan guru.
7. Penutup.
Kelebihan:
• Melatih pendengaran, ketelitian / kecermatan.
• Setiap siswa mendapat peran.
• Melatih mengungkapkan kesalahan orang lain dengan lisan.
Kekurangan:
• Hanya digunakan untuk mata pelajaran tertentu
• Hanya dilakukan dua orang (tidak melibatkan seluruh kelas sehingga koreksi hanya sebatas pada dua orang tersebut).

Picture and Picture
Picture and Picture adalah suatu metode belajar yang menggunakan gambar dan dipasangkan / diurutkan menjadi urutan logis.
Langkah-langkah:
1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
2. Menyajikan materi sebagai pengantar.
3. Guru menunjukkan / memperlihatkan gambar-gambar yang berkaitan dengan materi.
4. Guru menunjuk / memanggil siswa secara bergantian memasang / mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis.
5. Guru menanyakan alas an / dasar pemikiran urutan gambar tersebut.
6. Dari alasan / urutan gambar tersebut guru memulai menanamkan konsep / materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai.
7. Kesimpulan / rangkuman.
Kebaikan:
1. Guru lebih mengetahui kemampuan masing-masing siswa.
2. Melatih berpikir logis dan sistematis.
Kekurangan:Memakan banyak waktu. Banyak siswa yang pasif.

Numbered Heads Together
Numbered Heads Together adalah suatu metode belajar dimana setiap siswa diberi nomor kemudian dibuat suatu kelompok kemudian secara acak guru memanggil nomor dari siswa.
Langkah-langkah:
1. Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor.
2. Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya.
3. Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya.
4. Guru memanggil salah satu nomor siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka.
5. Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor yang lain.
6. Kesimpulan.
Kelebihan:
• Setiap siswa menjadi siap semua.
• Dapat melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh.
• Siswa yang pandai dapat mengajari siswa yang kurang pandai.
Kelemahan:
• Kemungkinan nomor yang dipanggil, dipanggil lagi oleh guru.
• Tidak semua anggota kelompok dipanggil oleh guru

Metode Investigasi Kelompok (Group Investigation)
Metode investigasi kelompok sering dipandang sebagai metode yang paling kompleks dan paling sulit untuk dilaksanakan dalam pembelajaran kooperatif. Metode ini melibatkan siswa sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Metode ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam ketrampilan proses kelompok (group process skills). Para guru yang menggunakan metode investigasi kelompok umumnya membagi kelas menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 5 hingga 6 siswa dengan karakteristik yang heterogen. Pembagian kelompok dapat juga didasarkan atas kesenangan berteman atau kesamaan minat terhadap suatu topik tertentu. Para siswa memilih topik yang ingin dipelajari, mengikuti investigasi mendalam terhadap berbagai subtopik yang telah dipilih, kemudian menyiapkan dan menyajikan suatu laporan di depan kelas secara keseluruhan. Adapun deskripsi mengenai langkah-langkah metode investigasi kelompok dapat dikemukakan sebagai berikut:
a. Seleksi topik
Parasiswa memilih berbagai subtopik dalam suatu wilayah masalah umum yang biasanya digambarkan lebih dahulu oleh guru. Para siswa selanjutnya diorganisasikan menjadi kelompok-kelompok yang berorientasi pada tugas (task oriented groups) yang beranggotakan 2 hingga 6 orang. Komposisi kelompok heterogen baik dalam jenis kelamin, etnik maupun kemampuan akademik.
b. Merencanakan kerjasama
Parasiswa beserta guru merencanakan berbagai prosedur belajar khusus, tugas dan tujuan umum yang konsisten dengan berbagai topik dan subtopik yang telah dipilih dari langkah a) di atas.
c. Implementasi
Parasiswa melaksanakan rencana yang telah dirumuskan pada langkah b). Pembelajaran harus melibatkan berbagai aktivitas dan ketrampilan dengan variasi yang luas dan mendorong para siswa untuk menggunakan berbagai sumber baik yang terdapat di dalam maupun di luar sekolah. Guru secara terus-menerus mengikuti kemajuan tiap kelompok dan memberikan bantuan jika diperlukan.
d. Analisis dan sintesis
Parasiswa menganalisis dan mensintesis berbagai informasi yang diperoleh pada langkah c) dan merencanakan agar dapat diringkaskan dalam suatu penyajian yang menarik di depan kelas.
e. Penyajian hasil akhir
Semua kelompok menyajikan suatu presentasi yang menarik dari berbagai topik yang telah dipelajari agar semua siswa dalam kelas saling terlibat dan mencapai suatu perspektif yang luas mengenai topik tersebut. Presentasi kelompok dikoordinir oleh guru.
f. Evaluasi
Guru beserta siswa melakukan evaluasi mengenai kontribusi tiap kelompok terhadap pekerjaan kelas sebagai suatu keseluruhan. Evaluasi dapat mencakup tiap siswa secara individu atau kelompok, atau keduanya.

Metode Jigsaw
Pada dasarnya, dalam model ini guru membagi satuan informasi yang besar menjadi komponen-komponen lebih kecil. Selanjutnya guru membagi siswa ke dalam kelompok belajar kooperatif yang terdiri dari empat orang siswa sehingga setiap anggota bertanggungjawab terhadap penguasaan setiap komponen/subtopik yang ditugaskan guru dengan sebaik-baiknya. Siswa dari masing-masing kelompok yang bertanggungjawab terhadap subtopik yang sama membentuk kelompok lagi yang terdiri dari yang terdiri dari dua atau tiga orang.
Siswa-siswa ini bekerja sama untuk menyelesaikan tugas kooperatifnya dalam: a) belajar dan menjadi ahli dalam subtopik bagiannya; b) merencanakan bagaimana mengajarkan subtopik bagiannya kepada anggota kelompoknya semula. Setelah itu siswa tersebut kembali lagi ke kelompok masing-masing sebagai “ahli” dalam subtopiknya dan mengajarkan informasi penting dalam subtopik tersebut kepada temannya. Ahli dalam subtopik lainnya juga bertindak serupa. Sehingga seluruh siswa bertanggung jawab untuk menunjukkan penguasaannya terhadap seluruh materi yang ditugaskan oleh guru. Dengan demikian, setiap siswa dalam kelompok harus menguasai topik secara keseluruhan.

Metode Team Games Tournament (TGT)
Pembelajaran kooperatif model TGT adalah salah satu tipe atau model pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan dan reinforcement.
Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif model TGT memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kerjasama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar.
Ada5 komponen utama dalam komponen utama dalam TGT yaitu:
1. Penyajian kelas
Pada awal pembelajaran guru menyampaikan materi dalam penyajian kelas, biasanya dilakukan dengan pengajaran langsung atau dengan ceramah, diskusi yang dipimpin guru. Pada saat penyajian kelas ini siswa harus benar-benar memperhatikan dan memahami materi yang disampaikan guru, karena akan membantu siswa bekerja lebih baik pada saat kerja kelompok dan pada saat game karena skor game akan menentukan skor kelompok.
2. Kelompok (team)
Kelompok biasanya terdiri dari 4 sampai 5 orang siswa yang anggotanya heterogen dilihat dari prestasi akademik, jenis kelamin dan ras atau etnik. Fungsi kelompok adalah untuk lebih mendalami materi bersama teman kelompoknya dan lebih khusus untuk mempersiapkan anggota kelompok agar bekerja dengan baik dan optimal pada saat game.
3. Game
Game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk menguji pengetahuan yang didapat siswa dari penyajian kelas dan belajar kelompok. Kebanyakan game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan sederhana bernomor. Siswa memilih kartu bernomor dan mencoba menjawab pertanyaan yang sesuai dengan nomor itu. Siswa yang menjawab benar pertanyaan itu akan mendapat skor. Skor ini yang nantinya dikumpulkan siswa untuk turnamen mingguan.
4. Turnamen
Biasanya turnamen dilakukan pada akhir minggu atau pada setiap unit setelah guru melakukan presentasi kelas dan kelompok sudah mengerjakan lembar kerja. Turnamen pertama guru membagi siswa ke dalam beberapa meja turnamen. Tiga siswa tertinggi prestasinya dikelompokkan pada meja I, tiga siswa selanjutnya pada meja II dan seterusnya.
5. Team recognize (penghargaan kelompok)
Guru kemudian mengumumkan kelompok yang menang, masing-masing team akan mendapat sertifikat atau hadiah apabila rata-rata skor memenuhi kriteria yang ditentukan. Team mendapat julukan “Super Team” jika rata-rata skor 45 atau lebih, “Great Team” apabila rata-rata mencapai 40-45 dan “Good Team” apabila rata-ratanya 30-40

Model Student Teams – Achievement Divisions (STAD)
Siswa dikelompokkan secara heterogen kemudian siswa yang pandai menjelaskan anggota lain sampai mengerti.
Langkah-langkah:
1. Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku, dll.).
2. Guru menyajikan pelajaran.
3. Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota kelompok. Anggota yang tahu menjelaskan kepada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
4. Guru memberi kuis / pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu.
5. Memberi evaluasi.
6. Penutup.
Kelebihan:
1. Seluruh siswa menjadi lebih siap.
2. Melatih kerjasama dengan baik.
Kekurangan:
1. Anggota kelompok semua mengalami kesulitan.
2. Membedakan siswa.

Model Examples Non Examples
Examples Non Examples adalah metode belajar yang menggunakan contoh-contoh. Contoh-contoh dapat dari kasus / gambar yang relevan dengan KD.
Langkah-langkah:
1. Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran.
2. Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan lewat OHP.
3. Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan kepada siswa untuk memperhatikan / menganalisa gambar.
4. Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas.
5. Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya.
6. Mulai dari komentar / hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai.
7. KKesimpulan.
Kebaikan:
1. Siswa lebih kritis dalam menganalisa gambar.
2. Siswa mengetahui aplikasi dari materi berupa contoh gambar.
3. Siswa diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya.
Kekurangan:
1. Tidak semua materi dapat disajikan dalam bentuk gambar.
2. Memakan waktu yang lama.

Model Lesson Study
Lesson Study adalah suatu metode yang dikembangkan di Jepang yang dalam bahasa Jepangnya disebut Jugyokenkyuu. Istilah lesson study sendiri diciptakan oleh Makoto Yoshida.
Lesson Study merupakan suatu proses dalam mengembangkan profesionalitas guru-guru di Jepang dengan jalan menyelidiki/ menguji praktik mengajar mereka agar menjadi lebih efektif.
Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:
1. Sejumlah guru bekerjasama dalam suatu kelompok. Kerjasama ini meliputi:
a. Perencanaan.
b. Praktek mengajar.
c. Observasi.
d. Refleksi/ kritikan terhadap pembelajaran.
2. Salah satu guru dalam kelompok tersebut melakukan tahap perencanaan yaitu membuat rencana pembelajaran yang matang dilengkapi dengan dasar-dasar teori yang menunjang.
3. Guru yang telah membuat rencana pembelajaran pada (2) kemudian mengajar di kelas sesungguhnya. Berarti tahap praktek mengajar terlaksana.
4. Guru-guru lain dalam kelompok tersebut mengamati proses pembelajaran sambil mencocokkan rencana pembelajaran yang telah dibuat. Berarti tahap observasi terlalui.
5. Semua guru dalam kelompok termasuk guru yang telah mengajar kemudian bersama-sama mendiskusikan pengamatan mereka terhadap pembelajaran yang telah berlangsung. Tahap ini merupakan tahap refleksi. Dalam tahap ini juga didiskusikan langkah-langkah perbaikan untuk pembelajaran berikutnya.
6. Hasil pada (5) selanjutnya diimplementasikan pada kelas/ pembelajaran berikutnya dan seterusnya kembali ke (2).
Adapun kelebihan metode lesson study sebagai berikut:
- Dapat diterapkan di setiap bidang mulai seni, bahasa, sampai matematika dan olahraga dan pada setiap tingkatan kelas.
- Dapat dilaksanakan antar/ lintas sekolah.

(Taken from http://wijayalabs.wordpress.com/2008/04/)

jangjawokan sunda

Seureuh seuri
Pinang nanggeng
Apuna galugaet angen
Gambirna pamuket angen
Bakona galuge sari
Coh nyay, parupat nyay, loeko lenyay
Cucunduking aing taruk harendong
Cucunduking aing taruk paku hurang
Keuna asihan awaking
Asihan si leuget teureup


Kalimat diatas merupakan jangjawokan yang biasa digunakan urang sunda buhun ketika hendak nyepah (nyeupah), digerenteskeun atau di ucapkan dalam hati. Jangjawokan digunakan pada setiap kali kegiatan, bahkan menjadi tertib hidup. Misalnya untuk bergaul, bekerja sehari-hari, dan berdoa. Laku demikian dimungkinkan karena faktor masyarakat Sunda yang agraris selalu menjaga harmonisasi dengan alam. Konon pula seluruh nu kumelendang dialam dunya dianggap memiliki jiwa.

Tertib dan krama hidup misalnya berhubungan dengan padi (beras). Ada jangjawokan yang digunakan sejak menanam bibit, ngaseuk, tandur, panen, nyiuk beas, nyangu, mawa beas ticai, ngisikan, seperti salah satu contoh dibawah ini :

Jampe Nyimpen Beas

Mangga Nyi Pohaci
Nyimas Alame Nyimas Mulane
Geura ngalih ka gedong manik ratna inten
Abdi ngiringan

Ashadu sahadat panata, panetep gama
Iku kang jumeneng lohelapi
Kang ana teleking ati
Kang ana lojering Allah
Kang ana madep maring Allah
Iku wuju salamaet ing dunya
Salamet ing akherat

Asahadu anla ila haileloh
Wa ashadu anna Muhammaddarrasolullah
Abdi seja babakti kanu sakti, agung tapa
Nyanggakeun sangu putih sapulukan
Kukus kuning purba herang
Tuduh kang seseda tuhu
Datang ka sang seda herang
Tepi ka kang seda sakti
Nu sakti neda kasakten
Neda deugdeugan tanjeuran

Contoh lainnya,

Jampe Ngisikan (mencuci beras) :

Mangga Nyimas Alene Nyimas Maulene
Geura siram dibanyu mu’min
Di Talaga Kalkaosar
Abdi ngiringan
Nyi Pohaci Budugul Wulung
Ulang jail babawaan kaula
Heug

Nyi Pohaci Barengan Jati
Ulah jail kaniaya
Ka Nyi Pohaci Sukma Jati
heug

Inilah contoh tertib hidup masyarakat agraris yang menciptakan harmonisasi adapt dengan alam.

Para Sastrawan Sunda pada umumnya, seperti Wahyu Wibisana, Rus Rusyana, Ajip Rosidi menggolongkan Jangjawokan sebagai bentuk puisi sunda. Yus Rusyana menuangkannya dalam buku Bagbagan Puisi Mantra Sunda (1970), sedangkan Ajip Rosidi dalam Jangjawokan (1970). Saya piker, lepas dari benar atau salah tentang pemahaman masing-masing terhadap jangjawokan, namun dengan cara katagorisasi menjadi cabang dari puisi, paling tidak dapat terkabarkan kegenarasi berikutnya, bahwa di tatar ini pernah ada bagian dari budaya Sunda yang disebut Jangjawokan.


Menurut Wahyu Wibisana :

jangjawokan sejalan dengan maksud puisi magis yang dikemukakan Yus Rusyana dan pendapat Rachmat Subagya pada Agama Asli Indonesia. Dengan mantra orang berangsur-angsur memulangkan kuasa-kuasa imajiner yang dianggap melanggar atas wewenangnya yang imajiner kepada tempat asal wajar mereka yang imajiner juga.

Pengertian imajiner berpusat pada pemikiran yang berhubungan dengan makhluk gaib yang dianggap mempunyai kekuasaan dan kewenangan dan berada di tempat tertentu. Dengan demikian, hal ini ada pada tataran keyakinan dan kepercayaan bahwa dengan cara tertentu, kekuasaan dan kewenangan makhluk gaib itu dapat dimanfaatkan manusia untuk tujuan-tujuan yang dikehendakinya. Cara itulah dengan menggunakan mantra serta segala ketentuannya.

Mengapa Istilah Jangjawokan ?

Wahyu Wibisana dalam SASTRA LAGU : Mencari Hubungan Larik dan Lirik menjelaskan :

Dua buah bentuk puisi sunda yang dapat dikatakan bersifat arkais ialah ajimantra dan bentuk puisi pada cerita pantun. Istilah ajimantra diambil dari naskah kuno Siksa Kandang Karesyan. Sedangkan puisi pada pantuan ada tahun 1518, sama artinya dengan istilah mantra sekarang. Sedangkan puisi pada cerita pantun ada dua yakni rajah dan nataan”.

Jangjawokan suatu arti kata lain dari ajimantra. Istilah ajimantra digunakan dalam Naskah Siksa Kanda Ng Karesyan, ditulis pada tahun 1518 M. Tapi istilah Jangjawokan tidak diketahui sejak kapan. Namun Urang Sunda Tradisional lebih banyak menggunakan istilah Jangjawokan atau ajian ketimbang ajimantra. Mungkin kedua sebutan yang memiliki kesaman makna ini menandakan adanya adaptasi pemahaman, menganggap Jangjawokan (Sunda Buhun) eufimisme dari ajimantra (Sanksekerta).

Ajip Rosidi dalam buku Jangjawokan lebih menekankan pada istilah ini ketimbang menggunakan kalimat ajimantra, dengan alasan : Istilah ajimantra berasal dari India dan dalam bahasa Sunda tidak pernah digunakan. Dilihat dari segi isinya, Jangjawokan itu berupa permintaan atau perintah agar keinginan sipengguna jangjawokan dilaksanakan oleh nu gaib “makhluk gaib”.


Tapi tanpa mengoreksi paradigma diatas, timbul pertanyaan, apakah benar Jangjawokan itu ajimantra yang dimintakan kepada Makhluk Gaib ?.


Adaptasi bahasa atau keyakinan ?

Sebenarnya untuk mentraslate makna tujuan permohonan dari pelaku jangjawokan perlu juga ditelusuri melalui pemahaman tentang Hyang Tunggal ; Hyang Keresa atau Ketuhanan Yang Maha Esa serta sdejarah diri dalam Paradigma Sunda. Karena pemahaman istilah nu gaib tidak selamanya berkonotasi pada makhluk gaib, seperti jin atau makhluk halus, akan tetapi ada juga semacam cara membangkitkan spiritulitas dalam dirinya, seperti paradigma tentang raga ; bathin dan kuring.

Negasi terhadap paradigma diatas dapat dicontohkan, sebagai berikut :.

Ka Indung nu ngandung
Ka Rama nu ngayuga
Ka Indung nu teu ngandung
Ka Rama nu ngayuga
Kadulur opat kalima pancer
Pangnepikeun ieu hate
Ka Indungna anu nagnadung
Ka Ramana anu ngayuga
Ka Indungna nu teu ngandung
Ka Ramana nu ngayuga
Kadulur opat kalima pancer
Kalawan kanu ngurus jeung ngaluis si …. (anu) ……
Dst … dst …….

Saya tidak melihat adanya eksistensi nu gaib dari luar dirinya. Dalam kasus lain, bisa jadi ditujukan untuk memperkuat bathinnya, atau semacam ada perintah ingsun kepada bathinnya untuk berkomunikasi dengan ingsun orang lain.

Jika saja yang dimaksud dalam kandungan jangjawokan sama dengan yang dimaksud dalam Pantun Sunda, mengingat keduanya juga dikatarogikan sebagai puisi arkais, hemat saya dapat pula diperbandingkan dengan referensi dari Buku Jakob Sumardjo tentang ‘Khasanah Pantun Sunda’, terutama tentang ‘arkeologi pemkiran’ Urang Sunda Buhun terhadap ‘Trias Politik Sunda’. Tanpa pemahaman yang jelas niscaya “Urang Sunda” akan kehilangan sejarah pemikirannya yang hakiki.

Signal dari paradigma dan muara pernmohonan bisa pula dikaitkan dengan strata pengabdian dalam hirarki pemerintahannya. Misalnya Wado tunduk kepada Mantri ; Mantri tunduk kepada nangganan ; nangganan tunduk kepada mangkubumi ; mangkubumi, tunduk kepada ratu ; ratu tunduk kepada dewata ; dewata tunduk kepada Hyang. Dengan demikian Hyang lah yang tertinggi.

Menurut Edi S Ekajati, dalam Kebudayaan Sunda – Agama dan kepercayaan :
Kekuasaan tertinggi berada pada Sahyang Keresa (Yang Mahakuasa) atau Nu Ngersakeun (Yang Menghendaki). Dia disebut Batara Tunggal (Tuhan Yang Maha Esa), Batara Jagat (Penguasda Alam), dan Batara Seda Niskala (Yang Gaib). Jadi dalam pemahaman saya, yang membedakan masalah Keesaan Tuhan dalam Paradigma Urang Sunda Wiwitan dengan yang berikutnya terletak pada Syariatnya. Hal ini wajar, mengingat masing-masing ageman memiliki sejarah dan perkembangannya sendiri.

Dalam tradisi Jangjawokan selanjutnya ditemukan ada sebutan Allah kepada yang dimohonkan. Urang sunda biasanya membaca dengan Alloh. Konsonan “O” nya mani lekoh - khas. Bahkan ada jangjawokan dari Urang Baduy yang menggunakan istilah yang digunakan para pemeluk agama islam, seperti dalam Sawer Panganten, seperti dibawah ini :

Bismillahirohmanirohim.
Panggpunten kasadaya,
Kau nu tua ka nu anom,
Sumawon kanu sepuh mah,
Kaula bade nyembahkeun,
Nyi panganten sareng ki panganten.
Atau dalam Sadat Islam :
Sadat Islam aya dua,
Ngislamkeun badan kalawan nyawa,
Dat hirup tangkal iman,
Ngimankeun badan sakujur,
Hudang subuh banyu wulu,
Parentah Kangjeng Gusti,
Nabi Adam pangyampurnakeun badan awaking,
Sir suci,
Sir adam,
Sir Muhammad,
Muhammad Jaka lalana,
Nu aya di saluhuring alam.

Istilah dalam jangjawokan yang banyak disebut-sebut urang sunda Buhun, seperti Allah – Adam dan Muhammad tentunya tidak bisa dilepaskan dari paradigma tentang Dzat – Sifat – dan Manusia itu sendiri. Mungkin juga menandakan adanya unsur kesatuan yang hakiki antara raga, bathin dan kuring-na manusa. Memang menjadi sulit bagi saya membedakan jika masih ada istilah : Jangjawokan itu suatu permohonan (hanya) kepada Makhluk Gaib, bukan kepada Yang Maha Gaib. Tapi syah-syah saja jika digunakan dalam rangka katagorisasi puisi arkais.

Contoh lainnya do’a untuk belajar, atau agar dicerahkan pikiran. Contoh ini saya dapatkan dari Almarhum Bapak Nunung Setiya, demikian :


Allahuma hujud bungbang
Nu hurung dina jajantung
Nu ruhay dina kalilipa
Remet meteng dina angen
Bray padang ….. Alllah.
Pangmukakeun kareremet nu aya didiri kula
Bray padang,
Brya caang,
Caangna salalawasna
Lawasna Saumur kula.

Setelah Bapak Nunung meninggal kemudian saya coba telusuri dari mana asal jangjawokan itu, dan bagaimana pula bahasa aslinya. Pada akhirnya saya menemukan dari salah satu sumber, konon dahulunya berisi, demikian :


Hujud bungbang
Nu hurung dina jajantung
Nu ruhay dina kalilipa
Remet meteng dina angen
Bray padang,
Pangmukakeun kareremet nu aya didiri kula
Bray padang,
Brya caang,
Caangna salalawasna
Lawasna Saumur kula.


Jika saja yang kedua diatas diyakini bersumber dari jangjawokan yang pertama dan tidak ditemukan kalimat Tauhid, namun dalam bentuk dibawah pun tidak ditemukan adanya unsur yang memintakan kepada makhluk gaib dalam arti diluar (kekuatan) dirinya. Kecuali jika indung mu ngandung dan nu teu ngandung ; bapak nu nungayuga kalawan nu teu ngayuga ; dulur opat kalima pancer dianggap makhluk gaib ?.

Saya justru menafsirkan, dengan dicantumkannya kalimat Tauhid didalam jangjawokan tersebut, justru dikembangkan oleh urang sunda berikutnya, bertujuan memintakan legitimasi dan ijin dari yang Maha Gaib. Setidak-tidaknya bertujuan untuk mengurangi tudingan menduakan Tuhan. Tapi ada benarnya jika urang tua dulu berujar “antara Gusti jeung makhlukna euweuh watesna, leuwih deukeut jeung naon wae, malah masih jauh antara hate jeung urat beuheung”.

Ciri-ciri Janjawokan

Jangjawokan didalam koridor satra puisi arkais didefinisikan, sebagai : permintaan atau perintah agar keinginan (orang yang menggunakan jangjawokan) dilaksanakan oleh nu gaib “makhluk gaib” sebatas ini mudah dipahami, yakni para pengguna jangjawokan menggunakan makhluk gaib untuk mencapai keinginannya. Namun tidak dapat dipungkiri jika ditemukan pula jangjawokan yang menggunakan bacaan sebagaimana lajimnya digunakan oleh urang sunda yang beragama islam (lihat Sadat Buhun), dikatagorikan do’a, bukan jangjawokan. Namun apakah tidak ada jangjawokan bukan do’a ?.

Pemilahan jangjawokan dengan do’a dimungkinkan terjadi jika jangjawokan dikatagorikan sebagai bagian dari puisi sunda (arkais), serta dibahas dalam kacamata sastra. Indikator jangjawokan ditentukan berdasarkan kacamata sastra. Namun boleh saja jika jangjawokan dilihat dari kacamata lainnya. Karena ketika seseorang mengucapkan jangjawokan tentu tujuannya bukan untuk membaca puisi.

Jangjawokan diyakini memiliki kekuatan magis. Kemungkinan kekuatan dari kandungan magis yang dirasakan nyaman menyebabkan jangjawokan ditularkan secara turun temurun. Jangjawokan tidak mungkin bisa bertahan dan terkabarkan hingga sekarang jika tidak dirasakan manfaatnya dan diyakini kekuatannya. Yang jelas ada harmoni manusia dengan alamnya ketika jangjawokan itu dibacakan.

Peran jangjawokan bisa diasumsikan keberadaanya sebelum kemudian diserahkan kepada para penyembuh modern, seperti dokter ; psikolog ; atau profesi apapun yang terkait dengan masalah penyembuhan fisik dan psikis. Jangjawokan digunakan pula dalam keseharian, sebagai bagian dari tertib hidup, seperti pada kegiatan sebelum buang air dan kegiatan lainnya.

Jangjawokan dalam jenis ini bisa ditemukan dalam Jampe Kahampangan (Jampi hendak buang air kecil) ; Jampe Kabeuratan (hendak buang air besar) ; Jampe Neda (Jampi sebelum makan) ; Jampe Masamon (Jampi bertamu) dll. Konon kabar, kekuatan dari magisnya terletak pada kebersihan hati si pelafalnya dan kesungguhan bagi para penggunannya. Namun saya tidak bisa terlalu jauh masuk untuk mengetahui pengaruhnya, biarlah ini merupakan bagian dari bidang l.ainnya.

Wahyu Wibisana, mengkatagorikan: ”ajimantra (baca : Jangjawokan) merupakan sastra arkais yang pernah muncul kemudian setelah sastra sunda kuno. Dikatakan ’pernah digunakan’ dan ’pernah muncul’, karena memang saat ini kebanyakan orang sunda sudah tidak menggunakan dan sekaligus tidak mempercayai ajimantra. Hanya saja, sebagai karya sastra (yang umumnya berbentuk lisan) tetap merupakan genre tersendiri dalam sastra Sunda seperti juga pada sastra daerah lainnya di Nusantara.”.

Dari pernyataan diatas, saya yakin Kang Wahyu masih menganggap bahwa masih ada masyarakat Sunda yang menggunakan jangjawokan. Kitapun lantas tidak bisa menafsirkan masyarakat pengguna jangjawokan sebagai masyarakat ketinggalan jaman, karena realitasnya masih nyaman untuk digunakan. Dengan dimasukannya ajimantra sebagai bagian dari puisi maka masih bisa ditelusuri dan terkabarkan beritanya kepada generasi berikutnya. Setidak-tidaknya katagorisasi ini dapat menyelamatkan jangjawokan sebagai asset budaya bangsa, sekalipun hanya dinikmati sebagai karya seni, tidak pada unsur magisnya.

Ciri-ciri Jangjawokan.

Jangjawokan menurut Wahyu Wibisana memiliki ciri-ciri, yakni :

1. menyebutkan nama kuasa imajiner, seperti : Pohaci Sanghiyang Asri, Batara, Batari dll.
2. dalam kalimat atau frase yang menyatakan si pengucap janjawokan berada pada posisi yang lebih kuat, otomatis berhadapan dengan pihak yang lemah.
3. berhubungan dengan konsvensi puisi, merupakan kelanjutan dari gaya Sastra Sunda Buhun dan cerita Pantun, yakni adanya desakan atau perintah, disamping himbauan, tegasnya bersifat imperative dan persuasif.
4. masih berhubungan dengan konvensi puisi, adanya rima-rima dalam jangjawokan. Rima-rima dimaksud memiliki fungsi estetis ; membangun irama ; fungsi magis ; fungsi membuat ingatan orang yang mengucapkan.
5. adanya lintas kode bahasa pada ajimantra yang hidup di Priangan dan Baduy. Bahasa jangjawokan tersebut diserap seutuhnya atau disesuaikan dengan lidah pengucapnya.
6. terkesan sebagai sastra arkais yang pernah muncul kemudian setelah sastra sunda.

Ciri-ciri diatas tentunya dilihat dari katagori Jangjawokan sebagai bagian dari puisi arkais sunda. Jadi wajar jika ada tekanan tujuan dari materi jangjawokan ; gaya sastra dan gaya bahasa ; rima-rima ; dan kelahirannya paska sastra sunda.

Penyebutan Kuasa Imajiner

Pengertian imajiner berpusat pada pemikiran yang berhubungan dengan makhluk gaib yang dianggap mempunyai kekuasaan dan kewenangan dan berada di tempat tertentu. Pada tataran keyakinan dan kepercayaan bahwa dengan cara tertentu, kekuasaan dan kewenangan makhluk gaib itu dapat dimanfaatkan manusia untuk tujuan-tujuan yang dikehendakinya, sebagaimana dalam Jangjawokan.

Nama-nama kuasa imajiner yang dimaksudkan tentunya sangat terkait dengan istilah-istilah yang digunakan urang Sunda Buhun. Seperti Pohaci Sanghyang Asri ; Batara dan Batari ; Sri Tunggal Sampurna ; Malaikat Incer Putih ; Raden Angga Keling ; Ratu Teluh ti Galunggung ; Sang Ratu Babut Buana. Penyebutan kuasa imajiner tersebut, seperti contoh dibawah ini :

Jampe Masamoan

Nu ngariung jiga lutung
Nu ngarendeng jiga monyet
Nya aing mandaha !
Maung pundung datang turu
Badak galak datang depa
Galudra di tengah imah
Kakeureut kasieup ku pohaci awaking.

Jampe masamoan diatas bertujuan agar memiliki kekuatan yang tersinari pohaci yang ada didalam dirinya. Bahkan ada semacam perintah bathin kepada siapapun yang ada ditempat pasamoan tersebut untuk tunduk dan menerima kehadirannya. Mungkin juga dapat ditafsirkan adanya perintah bathin orang yang hendak bertamu kepada bathin pihak”nu dipasamoan’.

Contoh perintah bathin ini dapat dilihat dari asihan asihan seperti dibawah ini, sebagai berikut :

Ka Indung anu ngandung
Ka Rama anu ngayuga
Ka Indung nu teu ngandung
Ka Rama anu teu ngayuga
kadulur opat kalima pancer
Pang nepikeun ieu hate
Ka Indung na anu ngandung
Ka Rama na anu ngayuga
Ka Indung na nu teu ngandung
Ka Rama na anu teu ngayuga
Kadulur na opat kalima pancer
Kalawan kanu ngurus ngaluis hirup jeung huripna... (sianu) .......
Pamugi sing ....................................................

Jangjawokan diatas terasakan adanya perintah bathin (rasa) dari pembaca jangjawokan kepada bathin (rasa) orang yang dituju untuk melaksanakan apa yang dikehendakinya. Perintah dan urusan koridor bathin ini sangat nampak ketika pemohon memerintahkan bathinnya untuk menyampaikan kepada bathin tujuannya. Seperti ada eksistensi indung dan bapak anu ngandung kalawan nu teu ngandung. Kemudian disebut pula eksistensi dari saudara yang empat dan pancernya.

Dalam konteks yang sama ditemukan pula istilah-istilah spiritual yang lajim digunakan orang sunda penganut agama islam. Sehingga kuasa imajiner jika ditafsirkan sebagai sesuatu yang gaib atau makhluk terasa menjadi rancu jika kita membaca jangjawokan seperti dibawah ini.

Jampe Unggah

Ashadu sahadat bumi
Ma ayu malebetan
Bumi rangsak tanpa werat
Lan tatapakan ing Muhammad
Birahmatika ya arohmana rohomin

Jampe Turun

Allohuma ibu bumi
Medal tapak tatapakan
Turun wawayanging ing Muhamad
Birahmatika ya arohma rohimin.

Jika saja ditelaah lebih lanjut dari kedua jangjawokan terakhir, saya sendiri menjadi maklum, bahwa permohonan bathin kepada sesuatu ”Yang Gaib” dimintakan ijin terlebih dahulu kepada ”Yang Maha Gaib”, atau dapat juga disimpulkan bahwa atas kehendak yang Maha Gaib maka Yang Gaib itu bisa diperintahkan.

Istilah ”Nu Gaib” disini tentunya menimbulkan pertanyaan, Nu Gaib anu mana ?. Mungkin alangkah lebih bijaknya jika mendefinisikan jangjawokan dengan cara menggunakan paradigma dari para penggunanya, yakni masyarakat Sunda Buhun. Dalam paradigma masyarakat Sunda Buhun, terutama ketika mengkaji dan menemukan sejarah diri akan terungkap ada tiga unsur yang menyebabkan manusa hirup jeung hurip, yakni unsur lahir (raga) ; bathin (hidup) dan kuring (aku). Kuring atau aku bertindak sebagai driver bagi lahir dan bathin, bagi raga jeung hirupna. Aku pula yang memanaje raga dan bathin.

Dari paradigma tersebut tentunya dapat disimpulkan, bahwa nu gaib itu bukan sesosok makhluk yang ada diluar dirinya, melainkan nu ngancik dina dirina.

Pengguna Jangjawokan sebagai pemberi perintah

Dalam jangjawokan, si pengguna bertindak sebagai pemberi perintah bathin, paling tidak sebagai pihak yang ‘menginginkan’ sesuatu. Oleh para sastrawan diposisikan sebagai pihak yang lebih kuat terhadap penerima perintah. Misalnya :

Nu ngariung jiga lutung
Nu ngarendeng jiga monyet
Nya aing mandahna
…………..
kakeureut ka sieup ku pohaci awaking

Atau :

Curuk aing curuk angkuh
Bisa ngangkuh putra ratu
……
mangka reret soreang
soreang ka badan awaking

Sipemberi perintah hemat saya tidak selamanya memposisikan diri sebagai pihak yang lebih kuat, karena ada juga kecenderungan kalimat yang dapat ditafsirkan sebagai permohonan atau himbauan, bukan perintah. Jika perhadapkan dengan yang kuat dan yang lemah, maka sangat tepat jika ia sebagai pihak yang lebih rendah dan sedang menginginkan sesuatu.

Tipe jangjawokan semacam diatas, seperti dibawah ini :

Jampe nyimpen Beas

Mangga Nyi Pohaci
Nyimas Alane Nyimas Mulane
Geura ngalih ka gedong manik ratna inten
Abdi ngiringan
…………….

Dari kalimat tersebut lebih jauh dari unsure memerintah. Sekalipun menaruh harapan besar untuk melakukan. Namun lebih tepay jika dikatagorikan membujuk untuk melakukan. Contoh lainnya, seperti dalam Jampe ngisikan : Mangga Nyimas Alene Nyimas Mulane - Geura siram dibanyu mu’min - Di Talaga Kalkaosar - Abdi ngiringan ……dst”

Saya menemukan beberapa kasus. Untuk jenis jangjawokan tertentu, seperti pangabaran atau asihan, penyatuan bathin dan kandungan jangjawokan dilakukan melalui proses ‘kuru cileuh kentel peujit’. Mungkin ini untuk menumbuhkan kesungguhan dan keteguhan hati serta keyakinan agar tujuan tersebut bisa dicapai. Dalam temuan saya (mungkin suatu kebetulan), dilakukan pula oleh masyarakat yang bukan penganut ajaran Sunda Buhun.

Cara-cara dan budaya demikian bukan hanya dilakukan oleh ‘urang sunda buhun’ bahkan sampai sekarang masih ada yang melakukannya. Misalnya melakukan dengan cara berpuasa dalam jumlah hari tertentu ; melakukan wirid ; atau melakukan shalat malam. Sedangkan ukuran keberhasilannya tidak sama dengan peta pengalaman seperti makan rawit, langsung terasa pedasnya, atau bisa dinikmati.

Penekanan perintah

Dalam jangjawokan sering ditemukan pengulangan perintah atau semacam ‘penegasan perintah untuk dilaksanakan’. Perintah ini bersifat imperatif atau persuasif, misalnya :

Bray padang, Bray caang
Caangna salalawasna,
lawasna Saumur kula
……………………………
mangka langgeng mangka tetep
mangka hurip kajayaan

Kalimat ini tentunya bukan sekedar penegasan, namun dapat juga diartikan sebagai kesungguhan untuk mencapai apa yang dikehendakinya.

Penutup

Sebenarnya sangat sulit mendifinisikan jangjawokan, kecuali dari kandungan keinginan yang termaktub didalam jangjawokan itu sendiri. Jika dinyatakan meminta kepada makhluk gaib, namun yang ditemukan adalah upaya menguatkan bathinnya, bahkan ada negasi tentang eksistensi Tuhan. Kemudian, jika saja dinyatakan sebagai perintah, itupun sulit diderfinisikan, mengingat ada pula janjawokan yang isinya memohon atau menghimbau.

Jangjawokan adalah hasil cipta, karsa dan rasa manusia Sunda. Memiliki akar kesejarahan yang mandiri. Sejalan dengan perkembangan dan sejarah pemahaman tentang keyakinan dan sejarah diri, bahkan pernah dirasakan manfaatnya. Jangjawokan bukan sekedar puisi yang dapat dinikmati kata-katanya, namun sebagai sesuatu yang diyakini memiliki kekuatan. Biarlah jangjawokan ‘diampihan’ sebagai puisi, agar tidak hilang dan dapat terkabarkan dikemudian hari.

Mun seug tea mah aya nu nyungsi rusiah jangjawokan, dipaluruh nepi ka wates wangenna. Tinangtu bakal panggih jeung sajatining hirup jeung huripna. Nu gaib lain makhluk nu misah tina ingsunna. Nu ngulon, ngaler, ngetan jeung ngidul, lain nu nyengkal tina pancerna. Sakabehna aya na hate jeung rasana, aya dina uteuk jeung pikiranana. Ibarat gula jeung amisna, uyah jeung asinna, ngajirim ngajadi hiji, kalawan tinekenan bakal kabuka rusiah, saha ari urang ? timana ari urang ? jeung rek kamana ari urang ?. Sabab mun manusa geus wawuh jeung dirina tinangtu bakal wawuh ka Gunti na.(Cag).

Wednesday, October 28, 2009

ice breaker pembelajaran

Ice Breaker atau pemecah kebekuan adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh fasilitator guna menyegarkan suasana kelas atau membikin suasana kelas menjadi akrab dan menyenangkan. Seperti ditahui, proses pembelajaran pada pendidikan dan pelatihan kebanyakan diikuti oleh para manusia dewasa yang telah memiliki sikap dan perilaku yang ‘establish’ dan kadang bersikap negatif hingga hal itu bisa menghambat proses pembelajaran. Sikap-sikap negatif itu antara lain adalah merasa pinter sendiri, pengen selalu menonjolkan diri, suka menyepelekan sesuatu, menutup diri terhadap hal-hal baru, sungkan, enggan bergaul dengan orang asing, kurang pede, minderan, dan masih banyak lagi yang lainnya haa…haa…ha….(waduh koq jadi lagunya Bang Rhoma…). Padahal salah satu azas penting bagi keberhasilan suatu diklat adalah interaksi yang terbuka, jujur, spontan antara fasilitator dan peserta guna terciptanya komunikasi dialogis dan kritis selama proses pembelajaran.

Ada dua keuntungan pokok jika suasana kelas menjadi akrab dan menyegarkan, yaitu : 1) peserta akan merasa senang mengikuti kegiatan, sehingga tidak merasa bosan dan lelah; 2) Tujuan diklat akan lebih mudah tercapai secara optimal karena para pesertanya terlibat secara aktif tanpa harus dipaksa. Menurut the Encyclopedia of Ice Breaker terbitan University Associates Inc (1976) bentuk ice breaker ada bermacam-macam, mulai dari sekedar teka-teki, cerita-cerita lucu atau humor ringan yang memancing senyum, lagu-lagu atau nyanyian yang disertai gerakan tubuh (action song), sampai permainan-permainan berkelompok yang cukup menguras tenaga atau bahkan fikiran. Acara perkenalan di awal pelatihan adalah salah satu waktu terbaik dan merupakan saat yang paling tepat untuk melakukan ‘ice breaker’ dalam rangka menciptakan suasan pelatihan yang terbuka, spontan dan jujur, tetap serius tetapi santai. Walaupun demikian, saya pribadi menganggap kegiatan ice breaker juga perlu dilakukan di tengah-tengah pelatihan dimana peserta terlihat mulai bosan, lelah atau malah mengantuk saat mengikuti pelatihan.

Fakih, Topatimasang, Rahardjo dalam Pendidikan Populer (2001) menyatakan bahwa apapun bentuknya, ‘pemecah kebekuan’ yang baik adalah yang :

1.

Pemecah kebekuan sedapat mungkin melibatkan semua peserta tanpa kecuali, jangan sampai ada yang hanya menjadi penonton saja, lebih baik lagi kalau gagasannya justru berasal dari peserta sendiri (hmm…..sesuatu yang sampai saat ini belum pernah saya lakukan).
2.

Pemecah kebekuan sedapat mungkin melibatkan semua panca indra setiap orang. Oleh karena itu yang mengandung unsur-unsur adanya gerakan-gerakan tubuh atau suara lebih disarankan.
3.

Pemecah kebekuan sedapat mungkin menciptakan keharusan berinteraksi antar semua orang. Oleh karena itu, disarankan bentuk-bentuk permainan yang mengandung unsur-unsur perlombaan atau persaingan.
4.

Pemecah kebekuan sedapat mungkin mengandung unsur-unsur kejutan (surprise), misalnya sesuatu yang baru dikenal atau tidak disangka-sangka sebelumnya, bukan sesuatu yang sudah terlalu umum dan biasa atau sudah dikenal baik selama ini, tetapi jangan terlalu banyak mengandung idiom-idiom asing sehingga malah tidak difahami oleh sebagian besar peserta.
5.

Pemecah kebekuan sedapat mungkin mengandung unsur-unsur kegembiraan (enjoyable) atau kelucuan yang menghilangkan rasa tegang atau bosan.
6.

Sedapat mungkin ringkas dan padat (terbaik adalah 5-15 menit) dan tidak berbelit-belit cara melakukannya. Kalau waktu yang tersedia cukup lama, maka harus dilakukan dengan tempo tinggi (cepat) dan dengan bentuk kegiatan beragam (tidak hanya satu jenis saja sampai membosankan).
7.

Pemecah kebekuan sedapat mungkin memang ada kaitannya degan pokok bahasan atau materi/topik yang sedang dibicarakan/dibahas pada waktu itu. Misalnya saja jika materi sesi saat itu adalah membahas masalah kepemimpinan yang demokratis, maka pemecah kebekuan yang perlu dikembangkan adalah yang membahas masalah kepemimpinan juga. Oleh karena itu, setiap pemecah kebekuan juga harus diproses dalam daur belajar sehingga dapat diambil pelajaran bersama.(na….ini yang sebenarnya paling susah dalam sebuah ice breaking….hingga seringkali satu ice breaking terpaksa dipakai diberbagai mata pelajaran….yang penting rame walau agak nyimpang-nyimpang dikit…

sejarah Galuh

Pengantar

Daerah Galuh yang sekarang bernama Ciamis memiliki perjalanan sejarah sangat panjang. Hal itu terbukti dari periodisasi yang dilewatinya, yaitu masa pra-sejarah, masa kerajaan (abad ke-8 – abad ke-16), masa kekuasaan Mataram, kekuasaan Kompeni, dan Belanda/Hindia Belanda (akhir abad ke-16 – awal tahun 1942), masa pendudukan Jepang (awal tahun 1942 – 15 Agustus 1945), dan masa kemerdekaan (17 Agustus 1945 – sekarang). Perjalanan sejarah Galuh yang panjang itu sampai sekarang masih belum terungkap secara komprehensip, bahkan beberapa bagian/episode sejarah Galuh masih “gelap”. Selain itu, sejarah Galuh masa kerajaan masih banyak bercampur dengan mitos atau legenda, sehingga ceritera tentang Galuh masa kerajaan pun terdapat beberapa versi.

Belum adanya penulisan sejarah Galuh yang komprehensip kiranya disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, Pemda Kabupaten Ciamis terkesan kurang menaruh perhatian terhadap sejarah daerahnya sendiri. Kedua, kurangnya sejarawan yang berminat untuk mengungkap sejarah Galuh, antara lain karena kegiatan itu memerlukan biaya cukup besar untuk mencari dan meneliti sumbernya. Sekalipun sudah ada hasil penelitian sejarah Galuh, tetapi uraiannya hanya berupa garis besar mengenai aspek atau kurun waktu tertentu.

Sejarah bukan hanya memiliki fungsi informatif, tetapi juga fungsi edukatif, bahkan sesungguhnya memiliki fungsi pragmatik, khususnya bagi pemda daerah setempat. Hal itu disebabkan sejarah adalah suatu proses kausalitas yang ber-kesinambungan. Kehidupan masa kini adalah hasil kehidupan masa lampau, dan kehidupan masa mendatang akan tergantung dari sikap kita dalam mengisi kehidupan masa sekarang. Oleh sebab itu kita harus pandai belajar dari sejarah, karena sejarah adalah “obor kebenaran” dan “obor” agar kita tidak “pareumeun obor”.



Atas dasar hal tersebut, seyogyanya bila Pemda Kabupaten Ciamis dan “Wargi Galuh” menaruh perhatian terhadap sejarah Galuh, antara lain agar kita benar-benar memahami bagaimana jati diri putera Galuh.

1. Asal-Usul dan Arti Kata Galuh

“Galuh” berasal dari kata Sansakerta yang berarti sejenis batu permata. Kata “galuh” juga biasa digunakan sebagai sebutan bagi ratu yang belum menikah (“raja puteri”). Sejarawan W.J. van der Meulen berpendapat bahwa kata “galuh” berasal dari kata “sakaloh” yang berarti “asalnya dari sungai”. Ada pula pendapat yang menyatakan, bahwa kata “galuh” berasal dari kata “galeuh” dalam arti inti atau bagian tengah batang kayu yang paling keras. Pengertian mana yang tepat dari kata “galuh” untuk daerah yang sekarang bernama Ciamis? Hal itu memerlukan kajian secara khusus dan mendalam.

2. Galuh Masa Kerajaan

Galuh memang pernah menjadi sebuah kerajaan. Akan tetapi ceritera tentang Kerajaan Galuh, terutama pada bagian awal, penuh dengan mitos. Hal itu disebabkan ceritera itu berasal dari sumber sekunder berupa naskah yang ditulis jauh setelah Kerajaan Galuh lenyap. Misalnya, Wawacan Sajarah Galuh antara lain menceriterakan bahwa Kerajaan Galuh berlokasi di Lakbok dan pertama kali diperintah oleh Ratu Galuh. Setelah banjir besar yang dialami oleh Nabi Nuh surut, pusat Kerajaan Galuh pindah ke Karangkamulyan dan nama kerajaan berganti menjadi Bojonggaluh. Dikisahkan pula putera Ratu Galuh, yaitu Ciung Wanara berselisih dengan saudaranya Hariang Banga. Perselisihan itu berakhir dengan permufakatan, bahwa kekuasaan atas Pulau Jawa akan dibagi dua. Ciung Wanara berkuasa di Pajajaran dan Hariang Banga menguasasi Majapahit. Selama belum ada sumber atau fakta kuat yang mendukungnya, kisah seperti itu adalah mitos (Bagi guru sejarah, ceritera yang bersifat mitos boleh-boleh saja disampaikan kepada para siswa, dengan catatan harus benar-benar ditegaskan, bahwa ceritera itu adalah mitos yang kebenarannya sulit dipertanggungjawabkan).

Ceritera tentang Kerajaan Galuh yang dapat dipercaya adalah berita dalam sumber primer berupa prasasti, naskah sejaman (ditulis pada jamannya atau tidak jauh dari peristiwa yang diceriterakannya), dan sumber lain yang akurat. Menurut sumber-sumber tersebut, Galuh sebagai nama satu daerah di Jawa Barat—Dalam Peta Pulau Jawa, kata “galuh” digunakan pula menjadi bagian nama atau bagian nama beberapa tempat, seperti Galuh (Purbalingga), Rajagaluh (Majalengka), Sirah Galuh (Cilacap), Galuh Timur (Bumiayu), Segaluh dan Sungai Begaluh (Leksono), Samigaluh (Purworejo), dan Hujung (Ujung) Galuh di Jawa Timur) muncul dalam panggung sejarah pada abad ke-8. Setelah Kerajaan Tarumanagara (abad ke-5 s.d. abad ke-7) berakhir, di daerah Jawa Barat berdiri Kerajaan Sunda (abad. ke-8 s.d. abad ke-16). Pusat kerajaan itu berpindah-pindah, dari Galuh pindah ke Pakuan Pajajaran/Bogor (± abad ke-11 s.d abad ke-13), kemudian pindah lagi ke Kawali (abad ke-14). Selanjutnya kerajaan itu kembali berpusat di Pakuan Pajajaran, sehingga lebih dikenal dengan nama Kerajaan Pajajaran.

Nama kerajaan seringkali berubah dengan sebutan nama ibukotanya. Oleh karena itu, tidak heran bila ketika Kerajaan Sunda beribukota di Galuh, kerajaan itu disebut juga Kerajaan Galuh. Diduga pusat/daerah inti Galuh waktu itu adalah Imbanagara sekarang. Raja terkenal yang berkuasa di Galuh adalah Sanjaya. Ketika kerajaan itu berpusat di Kawali (abad ke-14) diperintah oleh Prabu Maharaja (di kalangan masyarakat setempat, raja ini dikenal dengan nama Maharaja Kawali). Pada masa pemerintahan raja itulah agama Islam masuk ke Kawali dari Cirebon antara tahun 1528-1530.



Ketika Kerajaan Sunda/Pajajaran diperintah oleh Nusiya Mulya (paruh kedua abad ke-16), eksistensi kerajaan itu berakhir akibat gerakan kekuatan Banten di bawah pimpinan Maulana Yusuf dalam rangka menyebarkan agama Islam. Peristiwa itu terjadi tahun 1579/1580. Sejak itu Pakuan Pajajaran berada di bawah kekuasaan Banten.

Setelah Kerajaan Sunda/Pajajaran berakhir, Galuh berdiri sendiri sebagai ke-rajaan merdeka (1579/1580 – 1595). Sementara itu, berdiri pula Kerajaan Sumedang Larang (± 1580-1620) dengan ibukota Kutamaya. Kerajaan Galuh diperintah oleh Prabu (Maharaja) Cipta Sanghiang di Galuh, putera Prabu Haurkuning. Batas-batas wilayah Kerajaan Galuh waktu itu adalah : Sumedang batas sebelah utara, Galunggung dan Sukapura batas sebelah barat, Sungai Cijulang batas sebelah selatan, dan Sungai Citanduy batas sebelah timur. Perlu disebutkan bahwa daerah Majenang, Dayeuhluhur, dan Pegadingan yang sekarang masuk wilayah Jawa Tengah, semula termasuk wilayah Galuh. Di tempat-tempat tersebut sampai sekarang pun masih terdapat orang-orang berbahasa Sunda.



3. Galuh di bawah kekuasaan Mataram

Di bawah kekuasaan Mataram, daerah-daerah di Priangan yang semula berstatus kerajaan berubah menjadi kabupaten. Galuh berada di bawah kekuasaan Mataram antara tahun 1595-1705. Galuh pertama kali jatuh ke dalam kekuasaan Mataram, ketika Mataram diperintah oleh Sutawijaya alias Panembahan Senopati (1586-1601). Oleh penguasa Mataram, Galuh dimasukkan ke dalam wilayah administratif Cirebon. Setelah Prabu Cipta Sanghiang di Galuh meninggal, ia digantikan oleh puteranya bernama Ujang Ngekel bergelar Prabu Galuh Cipta Permana (1610-1618), berkedudukan di Garatengah (daerah sekitar Cineam, sekarang masuk wilayah Kabupaten Tasikmalaya). Prabu Galuh Cipta Permana yang telah masuk Islam (semula beragama Hindu) menikah dengan puteri Maharaja Kawali bernama Tanduran di Anjung. Selain Garatengah, di wilayah Galuh terdapat pusat-pusat kekuasaan, dikepalai oleh seseorang yang ber-kedudukan sebagai bupati dalam arti raja kecil. Pusat-pusat kekuasaan itu antara lain Cibatu, Utama (Ciancang), Kertabumi (Bojong Lopang), dan Imbanagara.

Mataram menguasai Galuh kemudian Sumedang Larang (1620) dalam usaha menjadikan Priangan sebagai daerah pertahanan di bagian barat dalam menghadapi kemungkinan serangan pasukan Banten dan Kompeni yang berkedudukan di Batavia. Kekuasaan Mataram di Galuh lebih tampak ketika Mataram diperintah oleh Sultan Agung (1613-1645) dan Galuh diperintah oleh Adipati Panaekan (1618-1625), putera Prabu Galuh Cipta Permana, selaku Bupati Wedana. Penguasaan Mataram terhadap Galuh dan Sumedang Larang sifatnya berbeda. Galuh dikuasai oleh Mataram melalui cara kekerasan, karena pihak Galuh melakukan perlawanan. Sebaliknya, Sumedang Larang jatuh ke bawah kekuasaan Mataram karena berserah diri, antara lain karena adanya hubungan keluarga antara Raden Aria Suriadiwangsa penguasa Sumdang Larang dengan penguasa Mataram.

Tahun 1628 Mataram merencanakan penyerangan terhadap Kompeni di Batavia dan meminta bantuan para kepala daerah di Priangan. Ternyata rencana itu me-nimbulkan perbedaan pendapat yang berujung menjadi perselisihan di antara para kepada daerah di Priangan. Dalam hal ini, Adipati Panaekan berselisih dengan adik iparnya, yaitu Dipati Kertabumi, Bupati Bojonglopang, putera Prabu Dimuntur. Dalam perselisihan itu Adipati Panaekan terbunuh (1625). Ia digantikan oleh puteranya bernama Mas Dipati Imbanagara yang berkedudukan di Garatengah (Cineam). Pada masa pemerintahan Dipati Imbanagara, ibukota Kabupaten Galuh dipindahkan dari Garatengah (Cineam) ke Calincing. Tidak lama kemudian pindah lagi ke Bendanegara (Panyingkiran).

Ketika pasukan Mataram menyerang Batavia (1628), kepala daerah di Priangan memberikan bantuan. Pasukan Galuh dipimpin oleh Bagus Sutapura, pasukan Priangan dipimpin oleh Dipati Ukur, Bupati Wedana Priangan. Dipati Ukur memang mendapat tugas khusus dari Sultan Agung untuk mengusir Kompeni dari Batavia. Ternyata Dipati Ukur gagal melaksanakan tugasnya. Oleh karena itu, ia memberontak terhadap Mataram.

Pemberontakan Dipati Ukur yang berlangsung lebih-kurang empat tahun (1628-1632) merupakan faktor penting yang mendorong Sultan Agung tahun 1630-an memecah wilayah Priangan di luar Sumedang menjadi beberapa kabupaten, termasuk Galuh. Wilayah Galuh dipecah menjadi beberapa pusat kekuasaan kecil, yaitu Utama diperintah oleh Sutamanggala, Imbanagara diperintah oleh Adipati Jayanagara, Bojong-lopang diperintah oleh Dipati Kertabumi, dan Kawasen diperintah oleh Bagus Sutapura. Khusus kepala-kepala daerah yang berjasa membantu menumpas pemberontakan Dipati Ukur diangkat oleh Sultan Agung menjadi bupati di daerah masing-masing. Tahun 1634 Bagus Sutapura dikukuhkan menjadi Bupati Kawasen—Kepala daerah lain yang diangkat menjadi bupati antara lain Ki Astamanggala (Umbul Cihaurbeuti) menjadi bupati Bandung dengan gelar Tumenggung Wiraangunangun, Ki Wirawangsa (Umbul Sukakerta) menjadi bupati Sukapura dengan gelar Tumenggung Wiradadaha, dan Ki Somahita (Umbul Sindangkasih) menjadi bupati Parakanmuncang dengan gelar Tumenggung Tanubaya.) (daerah antara Banjarsari – Padaherang). Ia memrintah Kawasen sampai dengan 1653, kemudian digantikan oleh puteranya bernama Tumenggung Sutanangga (1653-1676). Sementara itu, Dipati Imbanagara yang dicurigai oleh pihak Mataram berpihak kepada Dipati Ukur, dijatuhi hukuman mati (1636). Namun puteranya, yaitu Adipati Jayanagara (Mas Bongsar) diangkat menjadi Bupati Garatengah. Imbanagara dijadikan nama kabupaten dan Kawasen digabungkan dengan Imbanagara.

Pertengahan tahun 1642 Adipati Jayanagara memindahkan lagi ibukota Kabupaten Galuh ke Barunay (daerah Imbanagara sekarang). Pemindahan ibukota kabupaten yang terjadi tanggal 14 Mulud tahun He (12 Juni 1642—Sejak tahun 1970-an, Pemda Kabupaten Ciamis menganggap tanggal 12 Juni 1642 sebagai Hari Jadi Kabupaten Ciamis. Mengenai Hari Jadi Ciamis, dibicarakan pada akhir tulisan ini). itu dilandasi oleh dua alasan. Pertama, Garatengah dan Bendanegara memberi kenangan buruk dengan ter-bunuhnya Adipati Panaekan dan Dipati Imbanagara. Kedua, Barunay dianggap lebih cocok menjadi pusat pemerintahan dan akan membawa perkembangan bagi kabupaten tersebut. Hal itu antara lain ditunjukkan oleh masa pemerintahan Adipati Jayanagara yang berlangsung selama 42 tahun. Selama waktu itu, daerah-daerah kekuasaan lain, yaitu Kawasen, Kertabumi, Utama, Kawali, dan Panjalu dihapuskan. Semua daerah itu menjadi wilayah Kabupaten Galuh. Dengan demikian, Kabupaten Galuh memiliki wilayah yang sangat luas, yaitu dari Cijolang sampai ke pantai selatan dan dari Citanduy sampai perbatasan Sukapura.

Setelah Adipati Jayanagara meninggal, kedudukannya sebagai bupati digantikan oleh Anggapraja. Akan tetapi tidak lama kemudian jabatan itu diserahkan kepada adiknya bernama Angganaya. Sementara itu, daerah Utama digabungkan dengan Bojonglopang, dikepalai oleh Wirabaya. Dipati Kertabumi yang semula memerintah Bojonglopang, dipindahkan ke Karawang dan menjadi cikal-bakal bupati Karawang.

Tahun 1645 setelah Sultan Agung meninggal, Amangkurat I putera Sultan Agung kembali melakukan reorganisasi wilayah Priangan. Wilayah itu dibagi menjadi beberapa daerah ajeg (setarap kabupaten), antara lain Sumedang, Bandung, Parakan-muncang, Sukapura, Imbanagara, Kawasen, Galuh, dan Banjar.



4. Galuh di bawah kekuasaan Kompeni (VOC/Verenigde Oost-Indische Compagnie, yaitu Perkumpulan Perseroan Belanda di Hindia Timur)

Akhir tahun 1705 Galuh sebagai bagian dari wilayah Priangan timur diserahkan oleh penguasa Mataram kepada Kompeni melalui perjanjian tanggal 5 Oktober 1705. Wilayah Priangan barat jatuh ke dalam kekuasaan Kompeni lebih dahulu, yaitu tahun 1677—Sejak tahun 1677 di wilayah Priangan memberlakukan penanaman wajib, terutama kopi dan nila (tarum) dalam sistem yang disebut Preangerstelsel). Mataram menyerahkan Priangan kepada Kompeni sebagai upah membantu mengatasi kemelut perebutan tahta Mataram—kompeni membantu Pangeran Puger dalam usaha merebut tahta Mataram dari keponakannya, yaitu Amangkurat III alias Sunan Mas). Namun demikian, Galuh dan daerah Priangan timur lainnya tetap berada dalam wilayah administratif Cirebon.

Sebelum terjadinya perjanjian 5 Oktober 1705, Kompeni sudah mengangkat Sutadinata menjadi Bupati Galuh (1693-1706) menggantikan Angganaya yang meninggal. Ia kemudian diganti oleh Kusumadinata I (1706-1727). Waktu itu Priangan berada di bawah pengawasan langsung Pangeran Aria Cirebon sebagai wakil Kompeni.

Beberapa waktu kemudian, Bupati Kawasen Sutanangga diganti oleh Patih Ciamis yang dianggap orang ningrat tertua dan terpandai di Galuh. Daerah Utama digabungkan dengan Bojonglopang.

Bupati Galuh berikutnya adalah Kusumadinata II (1727-1732). Oleh karena ia tidak memiliki putera, maka setelah ia meninggal kedudukannya digantikan oleh keponakannya bernama Mas Garuda, sekalipun keponakannya itu belum dewasa. Oleh karena itu, pemerintahan dijalankan oleh tiga orang wali, seorang di antaranya adalah ayah Mas Garuda sendiri, yaitu Raden Jayabaya Patih Imbanagara. Mas Garuda baru memegang pemerintahan sendiri mulai tahun 1751 hingga tahun 1801, dengan gelar Kusumadinata III. Ia digantikan oleh Raden Adipati Natadikusuma (1801-1806).

Pada masa peralihan kekuasaan dari Kompeni kepada Pemerintah Hindia Belanda, Kabupaten Imbanagara dihapuskan. Daerah itu digabungkan dengan Galuh dan Utama. Ketiga daerah itu diperintah oleh Bupati Galuh. Menurut sumber tradisional (Wawacan Sajarah Galuh), peristiwa itu terjadi akibat konflik antara Raden Adipati Natadikusuma dengan seorang pejabat VOC yang bersikap dan bertindak kasar. Raden Adipati Natadikusuma ditahan di Cirebon. Kedudukannya sebagai Bupati Imbanagara diganti oleh Surapraja dari Limbangan (1806-1811).

Di bawah kekuasaan Kompeni, sistem pemerintahan tradisional yang dilakukan para bupati pada dasarnya tidak diganggu. Hal itu berlangsung pula pada masa pemerintahan Hindia Belanda (1808-1942).


5. Galuh Masa Pemerintahan Hindia Belanda

Akhir Desember 1799 kekuasaan Kompeni berakhir akibat VOC bangkrut. Kekuasaan di Nusantara diambilalih oleh Pemerintah Hindia Belanda yang dimulai oleh pemerintahan Gubernur Jenderal H.W. Daendels (1808-1811). Di bawah pemerintahan Hindia Belanda, Galuh tetap berada dalam wilayah administratif Cirebon.

Pada akhir masa pemerintahan Daendels, Bupati Imbanagara Surapraja meninggal (1811). Bupati Imbanagara selanjutnya dijabat oleh Jayengpati Kertanegara, merangkap sebagai Bupati Cibatu (Ciamis). Setelah pensiun, ia digantikan oleh Tumenggung Natanagara. Penggantinya adalah Pangeran Sutajaya asal Cirebon. Oleh karena selalu berselisih paham dengan patihnya, Pangeran Sutajaya kembali ke Cirebon. Jabatan Bupati Imbanagara kembali dipegang oleh putera Galuh, yaitu Wiradikusuma, dan nama kabupaten ditetapkan menjadi Kabupaten Galuh. Tahun 1815 Bupati Wiradikusuma memindahkan ibukota kabupaten dari Imbanara ke Ciamis.

Pada masa pemerintahan Bupati Galuh berikutnya, yaitu Adipati Adikusumah (1819-1839), putera Bupati Wiradikusuma, Kawali dan Panjalu dimasukkan ke dalam wilayah Kabupaten Galuh. Bupati Adipati Adikusumah menikah dengan puteri Jayengpati (Bupati Cibatu). Dari perkawinan itu kemudian lahir seorang anak laki-laki bernama Kusumadinata. Ia kemudian menggantikan ayahnya menjadi Bupati Galuh (1839-1886) dengan gelar Tumenggung Kusumadinata. Selanjutnya ia berganti nama menjadi Raden Adipati Aria Kusumadiningrat. Ia adalah Bupati Galuh terkemuka yang dikenal dengan julukan “Kangjeng Prebu”.

Sejak tahun 1853, Bupati R.A.A. Kusumadiningrat tinggal di Keraton Sela-gangga yang dilengkapi oleh sebuah masjid dan kolam air mancur. Tahun 1872 di halaman keraton dibangun tempat pemandian yang disebut Jambansari—Pemandian itu sering digunakan oleh warga masyarakat dengan maksud “ngalap berkah” dari “Kangjeng Prebu”). Antara tahun 1859-1877, dibangun beberapa gedung di pusat kota kabupaten (Ciamis). Gedung-gedung dimaksud adalah gedung kabupaten yang cukup megah (di lokasi Gedung DRPD sekarang), Masjid Agung, Kantor Asisten Residen (gedung kabupaten sekarang), tangsi militer, penjara, kantor telepon, rumah kontrolir, dan lain-lain.

Bupati R.A.A. Kusumadiningrat sangat besar jasanya dalam memajukan ke-hidupan rakyat Kabupaten Galuh. Jasa-jasa itu antara lain membuat sejumlah irigasi, membuka sawah beribu-ribu bau, mendirikan tiga buah pabrik penggilingan kopi, membuka perkebunan kelapa, membangun jalan antara Kawali – Panjalu, mendirikan “Sakola Sunda” di Ciamis (1862) dan di Kawali (1876). Atas jasa-jasa tersebut, ia memperoleh tanda kehormatan atau atribut kebesaran dari Pemerintah Hindia Belanda berupa Songsong Kuning (payung kebesaran berwarna kuning mas) tahun 1874) dan bintang Ridder in de Orde van den Nederlandschen Leeuw (“Bintang Leo”) tahun 1878).

Jabatan Bupati Galuh selanjutnya diwariskan kepada puteranya, yaitu R.A.A. Kusumasubrata (1886-1914). Pada masa pemerintahan bupati ini, mulai tahun 1911 Ciamis dilalui oleh jalan kereta api jalur Bandung – Cilacap.via Ciawi-Malangbong-Tasikmalaya. Pada masa pemerintahan Bupati Galuh berikutnya, yaitu Bupati R.T.A. Sastrawinata (1914-1935), Kabupaten Galuh dilepaskan dari wilayah administratif Cirebon dan masuk ke dalam wilayah Keresidenan Priangan (tahun 1915). Nama Kabupaten diubah menjadi Kabupaten Ciamis. Antara tahun 1926-1942, Ciamis masuk ke dalam Afdeeling Priangan Timur bersama-sama dengan Tasikmalaya dan Garut, dengan ibukota afdeeling di kota Tasikmalaya.


6. Hari Jadi Kabupaten Ciamis

Telah dikemukakan, bahwa pada masa pemerintahan Adipati Jayanagara ibukota Kabupaten Galuh dipindahkan ke Barunay (daerah Imbanagara sekarang). Peristiwa itu terjadi tanggal 14 Mulud tahun He atau tanggal 12 Juni 1642 Masehi. Sekarang tanggal 12 Juni 1642 dipilih dan ditetapkan oleh Pemda Kabupaten Ciamis sebagai Hari Jadi Kabupaten Ciamis. Alasan atau dasar pertimbangannya adalah kepindahan ibukota kabupaten itu membawa perkembangan bagi Kabupaten Galuh. Sejak itulah Kabupaten Galuh mulai menunjukkan perkembangan yang berarti.

Tepatkah pemilihan tanggal tersebut?

Bila dikaji secara objektif dan kritis, menurut penulis, pemilihan tanggal 12 Juni 1642 sebagai Hari Jadi Kabupaten Ciamis atau Hari Jadi Kabupaten Galuh sekalipun adalah keliru atau kurang tepat. Pertama, bagi orang yang tidak memahami sejarah Galuh, pemilihan tanggal tersebut akan mengandung arti bahwa Kabupaten Galuh berdiri pada tanggal 12 Juni 1642, padahal jauh sebelum tanggal itu Kabupaten Galuh sudah berdiri. Kedua, Kabupaten Galuh berubah namanya menjadi Kabupaten Ciamis terjadi pada dekade kedua abad ke-20 (1915), setelah Galuh dilepaskan dari wilayah administratif Cirebon.

Atas dasar hal tersebut dan untuk kebenaran sejarah, seyogyanya hari jadi Kabupaten Ciamis dikaji ulang. Menurut penulis, hari jadi Kabupaten Ciamis seharusnya mengacu pada momentum awal berdirinya kabupaten itu, atau mengacu pada tanggal perubahan nama kabupaten dari Kabupaten Galuh menjadi Kabupaten Ciamis.